Rabu, 29 Juni 2016

Do You Love Him?


Pertanyaan itu sering mengusik saya, bahkan sejak saya kecil. Jujur, hubungan kedua orang tua saya bukanlah yang penuh taburan bunga keharmonisan. Namanya juga rumah tangga, ada saja riak –kecil juga besar- yang saya tangkap selama ini. Hingga saya sering membatin, kok betah, sih? Cinta, nggak, sih?
 
Beberapa tahun sebelum Papah berpulang, beliau sakit lama. Berulang kali masuk rumah sakit. Mulai dari pemasangan ring, sampai tidur di ruang tunggu ICU saat Papah baru selesai operasi by pass jantung. Berharap Papah kembali bugar. 

Namun, harapan itu pupus. Papah tak kunjung membaik. Dan satu-satunya yang tetap tegar dan terus bersemangat adalah Mamah. Tetap setia merawat, di rumah maupun di rumah sakit. Tanpa keluhan, tanpa menyesali kenapa begini kenapa begitu.

Mamah selalu ada di sisi Papah. Mulai dari sekedar mengupaskan buah, membuatkan makanan kesukaan Papah, sampai menyeka tubuhnya. Dari membantu ke toilet, sampai memantau tabung oksigen. Selalu siap sedia, sigap untuk terjaga kapan pun Papah membutuhkan.


Saya anggap itu: pengabdian.
Sampai ketika saat itu tiba. Setelah sebulan lebih dirawat di rumah sakit, tiba-tiba Papah drop dan terus kehilangan kesadaran. Dalam doanya, Mamah sempat berbisik, andai Papah harus mengakhiri kesakitannya, Mamah ikhlas. Sebelumnya, beliau berdua memang sudah saling memaafkan dan mengikhlaskan. 

Mamah terus merapal doa, menuntun Papah sebisanya, sampai para dokter meminta beliau menepi. Dan Papah pun kembali. Pulang ke keabadian. Tanpa derai tangis, tanpa ratapan. Hanya tatapan tabah. Ikhlas? Yang jelas, Mamah merasa belum puas merawat Papah.

Karena suatu hal, Mamah sendirian yang mensucikan Papah. Dan terus menemaninya dalam ambulan jenazah, dalam perjalanan membelah malam antara Ambarawa-Tasikamalaya.

“Ini tugas terakhir Mamah,” tegas beliau.

Sampai kini, Mamah terus ‘menjaga’ Papah. Mengkhatamkan tilawahnya untuk Papah. Mengirimkan doa setiap saat. Menjenguk makamnya meski harus menempuh perjalanan ratusan kilometer. Merawat peninggalan Papah, dan menjaga silaturahim.

Apakah Mamah mencintai Papah? Ah, rasanya tak perlu lagi saya mempertanyakan itu.


Rabu, 09 September 2015

Berkah Menulis Dengan Sederhana

Agustus kemarin, saya dikejutkan oleh laporan penjualan buku-buku saya di sebuah penerbit. Sederet angka yang terbilang fantastis untuk saya, tertera di sana. Membuat mata sampai berkaca-kaca, saking terharunya. Alhamdulillaah, alhamdulillaah.

Kenapa kaget, sih? Memang, buku saya jelek gitu, sampai nggak nyangka bisa dapat royalti gede? Aih, bukaan, dong. Buku-buku saya insya Allah bagus, kok -pede itu kudu, uhuk :D

Yang bikin saya terharu itu, ternyata buku-buku sederhana saya bisa diterima oleh masyarakat. Buktinya, dalam setengah tahun ini, total buku yang terjual lebih dari 14 ribu eksp. Sebagian dicetak ulang, dan masuk top 20 penjualan terlaris dari semua jenis buku di penerbit tersebut.

Buku Sederhana?

Yap, buku sederhana. Buku-buku saya kebanyakan picture book untuk anak usia TK-SD. So, temanya sudah jelas sederhana. Pun bahasa dan gaya tulisannya. Nggak bandinganlah, dengan karya sastra yang ndakik-ndakik, hehehe.

Buku sederhana, yang saya tulis dengan sederhana.

Diawali dengan pengamatan dan pengalaman sehari-hari, biasanya muncul ide. Ide saya pun biasanya sederhana. Seperti ketika saya mencereweti si bungsu yang suka main sambil mandi, terpikir konsep buku bertema hati-hati. Ide yang sederhana, kan?

Saya juga menuangkan ide dengan cara sederhana. Saya belum menjadi penulis yang ilmunya luar biasa. Maka, saya menulis dengan apa yang saya tahu. Secuil ilmu, tapi berusaha dimaksimalkan. ;)

Saya juga bukan penulis yang punya tempat dan waktu khusus untuk menulis. Saya bisa ngetik sambil tengkurap, bisa di teras, sambil nungguin cucian. Kapan dan bagaimana sikon saja. But please don't try this at home, ya, haha. Nggak elok ;D

Harapan saya  sederhana pula. Ingin mengabadikan 'nasehat', momen, dan apa yang saya rasa. Syukur-syukur jika ada yang bisa mengambil manfaat dari apa yang saya tulis. :D

So simple, kan?

The Cool Team Behind

Well, tentu keberhasilan sebuah buku itu tak lepas dari dukungan banyak pihak. Terima kasih dan penghargaan untuk editor-editor saya yang nggak pernah bosan diskusi dengan emak bawel ini. Kami bersama mengawal proses sejak dari konsep sampai naik cetak.

Para ilustrator keren yang menjelmakan ide dan imaji saya.

Last but not least, tim marketing yang sudah bekerja luar biasa! Banyak jempol!

Nah, jadi, jangan takut atau ragu untuk menulis, meski dengan kesederhanaan. Sebab, siapa yang tahu, tulisan yang sederhana itu, bisa menjadi lantaran berkah dan manfaat.

Tetap semangat!

Dekap Erat Jilbabmu, Nak!

Lagi-lagi, tadi saya harus menyambangi ruang BK sekolah si sulung. Bukan karena dia bermasalah -- siapa dulu dong, bundanya :D -- tapi untuk memperjelas sebuah masalah.

Begini ceritanya ...

Teh Nisa, sulung saya yang tahun ini duduk di kelas 9 SMP, kembali ditunjuk mewakili sekolah dalam sebuah lomba. Kali ini, lomba tata cara upacara bendera, dan dia kebagian tugas sebagai anggota paduan suara.

Setelah latihan sekitar seminggu, baru ketahuan bahwa kelak saat lomba, harus pakai seragam rok putih sebatas lutut. Khusus untuk jilbaber, dipadu kaus kaki panjang. Kontan saja sulung saya itu ngadu ke saya!

"Masa aku disuruh pakai kayak gitu? Nggak maulah!" cerocosnya ngambek.

FYI, Nisa memang telah berjilbab karena dia sudah baligh. Apalagi, TK-SD dilaluinya di sekolah Islam, yang notabene menjadikan hijab sebagai pakaian harian. Khusus ketika SMP, kami masukkan dia ke sekolah negeri, dengan beberapa pertimbangan:
1. Belum ada SMP Islam yang memadai saat itu
2. Agar bakat lainnya bisa terakomodir
3. Supaya dia belajar heterogenitas
4. Dan dalam keberagaman itu, dia bisa belajar mempertahankan prinsip agamanya

Di sekolahnya, memang banyak anak yang berjilbab, tapi nggak banyak yang 'memang berjilbab'. Ngerti kan, maksudnya? Hehe. Bahkan setahun terakhir, semua murid sudah wajib memakai bawahan panjang semata kaki. Tapi, kalau ternyata suatu saat ada momen yang mengharuskan 'menggunduli' atribut kemuslimahan, dengan gampangnya anak-anak itu meng-oke-kan. See?

Pegang Teguh Keyakinanmu!

Kembali ke soal rok itu, yak. Saya suruh dia bilang baik-baik sama guru/pelatih, bahwa dia tidak bisa dan tidak diperbolehkan pakai rok macam itu. Bukan masalah punya atau nggak. Ini masalah prinsip keyakinan yang harus dipegang teguh. Nggak bisa dimodifikasi seenaknya. Ntar bisa saja dong, remaja pakai kulot sepaha trus legging-an? Kan sama-sama ketutup? *huush, emak-emak esmosi :D

Kalau dia manut-manut saja, jatuhnya dosa ke siapa, hayoo? Ya yang jelas ke dialah. Kasihan, kan?

Makanya, kalau ada urusan begini, saya benar-benar mem-back up. Saya besarkan hatinya, untuk tetap mempertahankan ajaran agamanya. Saya tanamkan bahwa itu sikap yang betul. Nah, agar tidak bentrok dengan kepentingan sekolah, saya dan ayahnya mengarahkan, bagaimana cara bicara yang baik dengan guru.

Tapi namanya juga emak-emak, hadeeuh meuni nggak enak perasaan hati ini. Nggak marem kalau nggak maju sendiri, hihi. Bukan gitu juga sih, sebetulnya. Saya cuma khawatir akan terjadi miskom, mispengertian, dan mis-mis lainnya antara Nisa dan sekolah *pengalaman waktu dulu disuruh copot jilbab pas mau lomba koor :(

Jadilah Tangguh!

Maka, pagi-pagi saya sudah mandi *tumbeen* dan ngacir ke sekolah. Berhubung wali kelasnya nggak ada, saya ketemu dengan guru-guru BK, yang salah satunya adalah pelatih koor itu. Setelah bla bla bla, alhasil Nisa akan batal ikut. Karena lombanya menuntut keseragaman dengkul *eh.

Ya, nggak apa-apa! Bukan masalah besar. Ya kan, Teh Nisa? We've been through these things. And you know what to do, itu yang penting. InsyaAllah, karena kamu memperjuangkan agama Allah, akan ada ganti yang luar biasa dari-Nya. Aamiin.

Alhamdulillah, betapa sekolah di tengah keberagaman membuatmu belajar memahami perbedaan. Menghargai keanekaan, tanpa harus menjerumuskan diri ke dalamnya.

Jadi, tangguhlah selalu! Inilah dunia, di mana bukan dirimu seorang saja penghuninya. Ada kalanya kamu harus merunduk dan menjunjung langit suatu tempat. Namun bukan berarti kamu harus kehilangan siapa dirimu sebenarnya.

Rabu, 02 September 2015

My Fisrt Book For Teens: Puber Stories ^^

Yeaay, puber! Or, whooops ... pubeerrr, bikin keder?

Ah, masa remaja, abege, puber, memang sejuta rasa dan makna. Inilah saat di mana anak manusia akan mengalami perubahan pesat, fisik dan mental. Saking pesatnya, sampai bikin bingung! Senang karena merasa sudah gede, tapi galau juga karena nggak siap menghadapi kelakuan tubuh dan esmosi yang mendadak aneh.

*jangan-jangan, yang bingung itu sebetulnya emak bapak, yak? Anaknya mah nyantai, hihihi.

Puber, sayang untuk dilewatkan. Makanya, saya memutuskan untuk meng-oke-kan nulis tema ini. Awalnya sih, karena tertantang. Mau nyoba keluar dari zona 'nyaman dan aman'. Secara publik kan tahunya saya ini penulis buku anak yang cukup ... *eaaa, dilempar bakwan :p

Etapi, ternyata ... susah juga! Belibet, bet.

Kok?

Ya iyalah. Some reasons are:
- isinya kumpulan cerpen remaja, jadi pasti melibatkan jauh lebih banyak kata dibanding buku anak :D
- harus mencakup hal-hal populer about puber
- harus ada tipnya
- kudu memikirkan aspek psikologis remaja, agar mereka nggak jutek karena merasa dinasehati
- most of all: musti GOKIL!

Ayayayaiii ... Meski nulis gaya gokil itu tujuan hidup saya yang lama terkubur *hasyah*, selama ini kan saya nulisnya buku anak. Jadiii, saya harus semedi nyari pangsit dulu berbulan-bulan buat ngegokilin otak saya. *sungkem pada mas editor yang rela sabar nungguin.

Riset di internet -teteeup, pun mewawancara narasumber yakni anak sulung saya sendiri. Hehe. Tes baca, rombak. Tes lagi, edit. Maklum, profesi utama saya sebagai seorang emak, jadi teteeup penginnya mah menyusupkan helaian nasehat secara diam-diam. Agar kelak remaja yang baca nggak sadar, bahwa di balik cerita puber paling ngakak yang lagi dia cerna, ada misi rahasia nan mulia. Bahwa seorang emak ingin para remaja survive dari masa pubernya dengan smooth dan bijak. Selamet sejahtera.

Dan, huaaa ... It was a long long hard way to go *ora lebay, lho.

Dan taraaa!
Setelah nyaris putus asa dan kepengin nyerah aja, akhirnya saya berhasil juga menyelesaikan naskah ini! Alhamdulillaaah. This was beyond my mind, but I did it! Thanks only to You, Allah my Rabb.

Setelah meng-email naskah lengkap ke editor, saya langsung mengeksekusi janji untuk memberi reward pada diri ini. Maka, dengan suka cita sekaligus deg-degan (karena ini pertama kalinya melakukannya sendirian), saya meluncur ke warung mie ayam! Horeee!

So, enjoy the book!
InsyaAllah bermanfaat, cucok banget buat menemani para abege menapaki masa pubernya.

Mati gaya karena bingung menghadapi remaja? Nggak jaman! Sodorin aja buku ini!

***
Judul Buku: Puber Stories For Girls/Boys
Penerbit: Tiga Ananda - Tiga Serangkai
Jumlah Hal: 256 hal

Sabtu, 04 Juli 2015

Seri "Serunya Belajar Islam": Islam Itu Indah, Nak!




Kehidupan seorang muslim tak lepas dari ibadah. Segala hal yang dilakukan, bisa bernilai ibadah. Mengenalkan konsep ibadah dalam Islam, memang gampang-gampang susah. Kalau tak pandai mensiasati, kadang anak merasa terbebani, lho, Ayah Bunda.

Oleh karena itu, kita harus bisa mencari cara belajar yang efektif dan menyenangkan. Dan para ahli percaya, belajar lewat keteladanan itu sangat baik. Untuk anak, keteladanan itu
salah satunya bisa didapat dari cerita/dongeng. Anak selalu menyukai cerita, kan?

Jadi, seri “Serunya Belajar Islam” yang terdiri dari 5 judul ini, insya Allah disusun untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Lewat kisah-kisahnya, anak serta-merta bisa diajak meneladani para tokoh cerita dalam mempelajari Islam. Mereka akan belajar memetik hikmah dengan sendirinya. Dengan cara ini, insya Allah nilai-nilai yang hendak kita tanamkan, bisa terpatri dalam kalbu si buah hati kita.

Misalnya, dalam judul “Rahma Senang Berbagi”. Anak-anak jadi tahu, ooh berbagi itu harus yang baik-baik, ikhlas itu bagaimana, dan kita bisa berbagi tidak hanya dengan materi. 

Plus-plusnya, dalam buku-buku ini, ada selipan beragam aktivitas seru, lho! Menurut guru-guru TK yang sudah baca, alhamdulillah aktivitasnya bagus untuk anak usia dini sampai awal SD.

Soal ilustrasi? Jangan khawatir ... so pasti buku-buku ini penuh gambar-gambar imut yang berwarna-warni. Cocok, kan?

Nah, tunggu apa lagi? Silakan dibeli, ya, Ayah Bunda!

Informasi Buku:
Judul Buku          : Seri “SERUNYA BELAJAR ISLAM” (terdiri dari 5 buku);
1.               Fatima Belajar Berhijab
2.               Shalat Jumat Pertama Ahmad
3.               Rahma Senang Berbagi
4.               Wudhu Ridwan Sempurna
5.               Raihan Ikut Puasa
Penulis                 : Lia Herliana
Ilustrator             : Innerchild Studio, Adlina, Gadis Febriani, Kang Ramdan
Penerbit              : Tiga Ananda (imprint Tiga Serangkai, Solo)
Tahun Terbit      : 2014
Jumlah Hal.         : 32 halaman full colour, kertas glossy
Harga                    : @ Rp25.000,00
Tersedia Di          : Seluruh gerai Tiga Serangkai, Gramedia Stores, Togamas, www.tigaserangkai.com, www.gramediaonline.com, www.scoop.com, dll


Sabtu, 04 Oktober 2014

Me and My Back Bone: Jangan Sepelekan Sakit Punggung


Nyeri Punggung Menahun
 
Sudah sekitar lima tahun saya merasakan ada masalah dengan tulang punggung saya. Awalnya, sih, setiap habis setrika baju dengan gaya melantai, atau duduk agak lama, pasti daerah pinggang terasa panas dan pegal-pegal. Pasti bakal bangkit dengan terbungkuk-bungkuk persis mbah tuwek. Ah, namanya juga habis aktivitas, biasalah pegal, begitu batin saya selalu. 

Selain itu, hampir setiap bangun pagi, punggung bagian tengah sampai pinggang kaku dan nyeri sekali. Sampai-sampai saya nggak berani bergerak, karena bergerak sedetik saja sakitnya minta ampun. Tapi, tentu saya harus bisa bangun, karena saya, kan, harus sholat subuh. Jadi, setelah ugat-uget di kasur–biasanya sekitar setengah jam, saya berhasil memaksa diri ke posisi miring, untuk kemudian pelan-pelan bangun ke posisi duduk. Tarik nafas dulu, dengan rasa dada sesak (mungkin karena nahan sakit). Lalu, seperti biasa saya terbungkuk-bungkuk jalan ke kamar mandi. Saat wudhu di kran, saya tekuk lutut supaya punggung nggak terlalu sakit. Biasanya, setelah dipakai beraktivitas, nyeri itu mereda.

Lama-lama saya ilfil juga. Masa saya harus sakit punggung setiap pagi? Memang, sih, secara kasat mata saya segar bugar tak kurang suatu apapun. Makanya, mau periksa ke dokter juga agak ‘malu’. Apa iya yang saya rasakan ini layak dibawa ke ruang periksa? 

Akhirnya ke Dokter Juga

Yah, akhirnya saya ke dokter keluarga. Low back pain, katanya, dan diberi glucosamin serta analgesik (pereda nyeri). Karena masih sering nyeri pagi hari, saya minta dirujuk ke rumah sakit. Di sana bertemu dokter spesialis syaraf, yang mendiagnosa saya hanya spasme (kejang) otot. Saya dirujuk fisioterapi. 

Memang setelah beberapa kali terapi, saya nyaris nggak pernah merasa pegal di otot pinggang. Namun, tulang punggung bagian bawah masih nyeri.

Akhirnya, saya difoto X-ray. Hasilnya, skoliosis derajad ringan, dengan bentuk kurva C. Artinya, tulang pinggang (lumbal) saya bengkok ke kiri, bentuknya melengkung seperti huruf C. Penyebabnya, bisa karena sikap tubuh yang salah selama bertahun-tahun. Hiks. Sempat agak melow waktu itu. Berasa jadi makhluk ‘rusak’. Astaghfirullaah ...

Terapi dan Terapi, Tapi ...

Saya disuruh melanjutkan terapi dipanasi dengan sinar infrared. Masih nyeri juga, tuh. Jadi, pertengahan Ramadan lalu saya dirujuk ke RSUP dr. Kariadi Semarang untuk MRI. Tapi, oleh dokter residen di bagian syaraf di rumah sakit pemerintah terbesar di Jateng itu, saya hanya diminta foto rontgen ulang. Semoga hanya kejang otot, katanya. Ternyata, hasil rontgen, ada osteofit (awam: pengapuran) di tulang lumbal saya. Diagnosa: spondylosis lumbalis (penyakit degenerasi tulang belakang).

Jadi, saya kembali harus menjalani terapi. Namanya TMS. Bagian yang sakit, disentuh dengan logam berbentuk lingkaran yang bekerja dengan gelombang elektromagnetik. Rasanya? Yah, kayak ditusuk-tusuk jarum. Pokoknya lumayan sakit. Senat-senut dan jedat-jedut.

Setelah satu sesi (5 kali terapi berturut-turut) tetap nggak ada perbaikan, saya dirujuk untuk EMG. Nah, kali ini disetrum betulan, dengan listrik statis yang cukup bikin saya keringetan. Tujuan EMG untuk memeriksa kondisi syaraf pasien. Hasil EMG saya menunjukkan ada radikulopati di syaraf tulang pinggang bawah. Pantesan belakangan kaki kiri saya, mulai dari betis sampai telapak kaki, selalu kesemutan. 

Kata dokter saya, kemungkinan besar saya terkena HNP (herniated nucleous pulposus), alias syaraf terjepit.

So, saya kembali harus fisioterapi. Lah, bosaaan ... Pergi-pergi terus, kerjaan rumah maupun kerjaan sebagai penulis betul-betul keteteran. Selama periksa dan terapi itu, saya tetap berusaha mengerjakan dua naskah buku anak. Alhamdulillah editor saya baik-baik, hehehe.

Jadi ...

Sayangi tulang punggungmu. Tulang punggung yang terdiri dari ruas-ruas tulang leher, dada, pinggang, dan tulang ekor itu, mengemban tugas yang sangat berat, bahkan saat kita tidur lelap. Subhanallah. Jaga tulang punggungmu baik-baik, karena sehat itu investasi dari Allah. Karena sehat itu nikmat. Sungguh! 

Purwodadi, 2 Okt’ 2014

Me vs MRI: The Power of Dzikrullah




Akhirnya, MRI Juga

Yap, setelah kembali menjalani fisioterapi untuk tulang lumbal saya, akhirnya dokter merekomendasikan untuk melakukan MRI (Magnetic Resonance Imaging). Suatu pemeriksaan mutakhir untuk mengetahui kondisi tulang beserta isinya, dengan gelombang magnet. Menurut teman saya yang dokter rehab medis, MRI adalah gold standar untuk mendiagnosis apakah pasien benar terkena HNP atau tidak. Dan andai HNP, perlu dioperasi atau tidak. Begitu.

Sebetulnya, saya lega begitu diizinkan MRI. Jujur, selama ini saya agak stress, hehehe. Kepikiran terus, sebenarnya saya ini kenapa. Kalau sakit, kok ya saya masih sanggup lari-lari dan naik motor. Kalau dibilang sehat, kok setiap pagi saya kaku-nyeri punggung, nggak kuat duduk atau berdiri lama, cepat capek, kesemutan, dan sebagainya. Jadi, semoga dengan MRI segera ketahuan duduk perkaranya.

Takut!

Eh tapi, membaca testimoni orang-orang yang pernah melakukan MRI, saya jadi keder tingkat bidadari, nih! Katanya seram, super duper nggak nyaman, bahkan seorang teman telah bersumpah nggak akan mau lagi disuruh masuk tabung MRI. Haduh, Mak!

Namun, demi ketenangan jiwa yang selama ini selalu sibuk bertanya-tanya *halah* saya menabahkan diri memenuhi jadwal MRI. Whatever it will be, it will be. Toh dulu ketika opname setelah kecelakaan, saya juga pernah masuk tabung CT Scan, dan selamat, tuh. 

Jadi, here I am!

Jumat, 2 Oktober 2014, bertepatan dengan hari Arafah. Ditemani suami tercintah dan si bungsu Haikal, saya berangkat ke RSUP dr. Kariadi. Pukul 12.45 siang, saya sudah pakai kostum rumah sakit. Selama menunggu giliran, asli jantung saya merosot sampai perut, menyebabkan perut saya bereaksi abnormal. Mules-mules nerves gitu. Apalagi, suara mesin MRI itu terdengar nyaring hingga ruang tunggu. 

Saat itu, benak saya penuh bayangan, saya bakal sesak nggak bisa nafas di dalam tabung itu. Bakal parno luar biasa karena tempatnya super sempit. Lha wong di terowongan Sea World yang lega dan menakjubkan itu saja saya nyaris kolaps karena takut (sampai sesak dan saya bertekad nggak akan mau masuk situ lagi walau dibayar sejuta; entah kalau lima).

Wis, pokoknya saya bayangin yang jelek-jelek. Untung saya masih eling. Saya mulai berdizikir. Astagfirullaah, subhanallaah walhamdulillaah wa laa ila ha illaahu allaahu akbar. Dzikir dan dzikir ... saya sadar, hanya Allah yang bisa menolong saya mengatasi keparnoan ini.

Ternyata, MRI Itu ...

Di situlah saya, menghampiri sebuah tabung besi raksasa warna putih, dengan lubang seukuran badan manusia di tengahnya.

Saya berbaring di sliding bed, mengatur posisi senyaman mungkin. Entah kenapa, saya ambil sikap bersedekap seperti sedang shalat. Kedua telinga disumpal dengan sumbat telinga. Perawat dengan ramah menyiapkan sembari menyemangati saya. “Nggak usah takut, rileks. Di dalam, oksigen banyak sekali kok, sejuk, cuma memang berisik. Jangan kaget, dan jangan bergerak selama 20 menit, ya. Kalau betul-betul takut, tekan ini,” katanya sambil memberikan sesuatu seperti pencetan alat tensi.

Dan dengan mengucap bismillaah, sliding bed meluncur masuk ke dalam tabung MRI. 

Ho ho ho, saya mencoba ‘menikmati’ setiap inci pemandangan yang terpampang di atas saya. Jarak hidung saya dengan atap tabung hanya sejengkal. Suasananya nyaman, adem, terang. Tapi, begitu mesin mulai bekerja, masya Allah! Berisik luar bizaza! Segala macam suara bergantian terdengar, sampai telinga saya sakiiit. 

Belum lagi saya harus mempertahankan dua hal selama di dalam sana. Pertama, jangan sampai saya bergerak; pundak dan tangan kanan saya sampai kesemutan. Kedua, jangan sampai saya ketiduran! Serius. Saya tipe orang yang gampang tidur; jadi, walau suara di dalam tabung MRI bisa bikin orang lain sakit kepala, saya malah ngantuk. Nggak lucu kan kalau di layar monitor dokter melihat pasiennya malah ngorok. Hehehe. 

So, saya terus berdzikir dan berdzikir. Laa haula wa laa quwwata illa billaah. Hanya Allah penolong saya.

Dan, taraaa! Akhirnya selesai! Suara-suara bising itu hilang, saya diluncurkan keluar, perawat menepuk kaki saya sambil tersenyum.

Yes! Alhamdulillaah! Saya berhasil keluar tanpa menekan tombol panik! Luar biasa, ya, kekuatan mengingat Allah SWT dalam segala hal. Saya benar-benar telah membuktikan the power of dzikrullah.

I love you, Allah.

MRI: DO’s and DONT’s

-        Carilah info sebanyak mungkin tentang prosedur MRI. Tanya pada dokter atau perawat yang akan menangani. Makin banyak info, makin jelas apa yang akan dihadapi. Makin tahu, harusnya makin siap, kan?

-        Lepaskan semua yang berbahan logam dari tubuh, termasuk kacamata dan bra. Jangan coba-coba ngumpetin hape karena berniat akan selfie di dalam tabung MRI, ya. Semua bahan logam dilarang masuk area MRI, karena cara kerja mesin MRI dengan medan magnet super kuat.

-         Rileks, cari posisi ternyaman untuk berbaring, tapi nggak boleh miring apalagi nungging. 

-        Berpikir positif, MRI untuk kebaikan pasien agar penyebab keluhan dapat segera ditemukan. Berdoa, berdizikir, pokoknya berserah pada Yang Maha Kuasa.

-        Selama di dalam, jangan bergerak apalagi joget, karena gerakan kecil bisa mengakibatkan proses dihentikan dan diulang. Makin serem, kaaan?

-        Atur nafas, anggap saja sedang mendengar konser musik rock atau sedang berada di arena latihan pesawat tempur, hehehe.

-        Jangan malu-malu menekan tombol panik, karena itu hak pasien, hehehe.