Jumat, 25 November 2016

Pemeriksaan Jantung Koroner Menggunakan BPJS


 
                Oktober 2016 lalu, saya menjalani beberapa prosedur pemeriksaan penyakit jantung. Mulai dari masuk UGD, sampai proses kateterisasi jantung (angiografi koroner). Pengalaman saya bisa dibaca di sini dan di sini. Saya terdaftar sebagai peserta BPJS Non PBI, ikut suami saya yang PNS. Kelas rawat kelas I. Sebagian besar prosedur tersebut di-cover oleh BPJS.

Memancing Rujukan

Mengapa hanya sebagian? Karena pada awal sakit, permintaan rujukan saya sempat ditolak dokter keluarga. Alasannya, dokkel melihat kondisi umum saya baik, tak masuk kriteria sakit serius atau gawat. Padahal saat itu, saya merasa sesak di dada dan kesemutan di semua bagian kepala. Sambil minta maaf, dokkel menyarankan saya untuk periksa mandiri dulu. Jika nanti hasilnya menjurus ke sesuatu, baru dia bisa memberikan rujukan ke RS. 

Akhirnya, saya periksa mandiri ke dokter spesialis penyakit dalam di RSUD. Dokter tersebut, alhamdulillah, merespon serius keluhan saya. Saya diminta cek darah (gula darah sewaktu, asam urat, dan profil lipid - kolesterol total, trigliserida), foto rontgen dada/thorax (untuk mendeteksi pembesaran jantung), dan EKG (elektrokardiografi/rekam jantung). Total biaya Rp216 ribu rupiah.

Dokter mencurigai hasil EKG saya, didiagnosa iskemik (kekuarangan oksigen) pada jantung. Hasil lab, kolesterol total 20 poin di atas normal. Rontgen didapati gambaran bronchitis pada paru-paru. Lainnya bagus. Beliau menyarankan saya ke klinik jantung RSUP di Semarang. 

Nah, semua itu saya bawa ke dokkel. Barulah dokkel setuju bahwa saya sakit dan perlu pemeriksaan lanjutan. Saya diberi rujukan ke RSUD, menemui dokter sp penyakit dalam lagi, untuk kemudian dibuatkan rujukan ke klinik jantung RSUP dr. Kariadi Semarang. 

Jadi, bila Anda yakin Anda sakit, ada sesuatu yang salah dengan jantung Anda, namun tak cukup sakit sesuai kriteria rujukan BPJS, bisa coba tip ini: memancing rujukan. :(

Echocardiography/ECG, Treadmill Test dengan BPJS

          Di RSUP dr Kariadi Semarang, pasien jantung dilayani di 2 tempat. Untuk pasien bayar mandiri, di Gedung Elang (klinik eksekutif khusus jantung dan pembuluh darah/UPJ). Sedangkan pasien BPJS, dilayani di klinik jantung Gedung Merpati. Jangan khawatir, yang memeriksa langsung dokter spesialisnya, kok. Bukan residen. ;)

      Saya diberi obat-obatan plus dirujuk untuk echocardiography (USG jantung) dan treadmill test. Sebab, terlihat indikasi penyakit jantung koroner pada EKG saya. 

-                -ECG untuk melihat struktur dalam jantung (jika bayar mandiri, sekitar Rp600-700 ribu)
-          -Treadmill test, pasien diminta berjalan di atas treadmill (alat olahraga yang kecepatannya bisa distel), sambil dihubungkan dengan mesin EKG. 

Semua di-cover BPJS. Hanya, biasanya waktunya harus antre. Saya bisa ECG sekitar 10 hari kemudian, sedang treadmill sebulan ke depan. Namun saya belum jadi treadmill, karena sewaktu ECG dokter langsung menyarankan kateterisasi. Semua prosedur ini dilakukan di Gedung Elang.

Syarat ke klinik jantung RSUP dr Kariadi Semarang, siapkan:
1-   Surat rujukan asli dan fotokopinya
2-      SEP (surat penjaminan/ACC dari BPJS di faskes tk. II/RSUD)
3-      Kartu BPJS asli dan fotokopi
4-      KTP asli dan fotokopi
5-      Kartu Berobat RSUP dr Kariadi (jika sudah ada)
6-      Buku obat warna hijau (jika ada)
7-      Jangan LUPA, daftar dulu via telpon/SMS untuk mendapat nomor antrean dokter jantung yang Anda tuju (ada kuota pasien setiap harinya)
Telepon: (024) 841-7200
Via SMS: 0858-6548-3323 (formatnya: REG#nomor rekam medis Anda#kode klinik#kode dokter#tahun-bulan-tanggal)
Pendaftaran dilayani Senin – Jumat. Bisa mendaftar sebulan sebelumnya.

Kateterisasi Jantung dengan BPJS

                Setelah di-echo/ECG (20 Oktober 2016), saya disarankan untuk kateterisasi. Karena hasil ECG, ada hipokinetik di jantung saya, diduga akibat penyempitan. Kateterisasi jantung atau angiografi dilakukan untuk melihat benarkah ada penyempitan pembuluh darah jantung, di mana lokasinya, dan seberapa parah. Dari sini, dokter bisa menentukan pengobatan selanjutnya. 

                Sebagai pasien BPJS, saya diantar suster mendaftar ke bed manager Gedung Elang/UPJ, untuk pesan kamar. Sebab, pasien program kateterisasi harus bed rest pascatindakan. Rawat inap selama 1 hari. Dokumen pada saat pendaftaran ini sudah lengkap/lanjutan dari saat echo. Setelah beres, saya diberi rujukan oleh mbak bed manager untuk cek darah ke lab, sebagai persiapan kateterisasi.

                Oya, ada disclaimer berikut dari pihak BPJS: jika pada hari H tak tersedia kamar sesuai hak rawat inap, maka pasien setuju untuk diturunkan kelas rawatnya. (Saya mikir, kalau turun kelas, dapet kembalian, dong? :p)

                Saya terjadwal pada 31 Oktober 2016. Pada hari H, saya harus check in maksimal pukul 9 pagi. Ini yang harus saya dan pasien program kateterisasi bawa:
1   -Hasil laboratorium, ECG, rontgen
2   - Surat rujukan kateterisasi (disebut juga program PAC, kalau pasang ring PCI)
3   - Fc Kartu Keluarga
4   - Fc kartu BPJS
5   - Fc KTP, masing-masing 2 lembar kalau tidak salah
6   - Jangan lupa PUASA (pasien harus puasa makan, sesuai instruksi. Saya puasa sejak pukul 7 pagi)
*Siapkan saja fotokopian semua dokumen sebanyak beberapa lembar. Lebih baik berlebih, daripada ada yang kurang. Bakal repot!

Nanti pasien juga diminta tanda tangan banyak dokumen, antara lain persetujuan tindakan, persetujuan rawat inap. Lalu, pasien  dibawa ke kamar rawat, ganti baju rumah sakit, dan dipasang infus. Saya langsung diinfus karena rencana tindakan pukul 1 siang.

Prosedur kateterisasi membutuhkan waktu sekitar setengah - satu jam. Sebetulnya, tindakannya sih sebentar. Tapi, persiapan dan antre ruang cath lab-nya yang tak bisa diprediksi. Saya diantar ke cath lab pukul setengan satu siang, keluar pukul setengah tiga. Padahal, lama antrenya di dalam, hehehe. RSUP dr Kariadi memiliki 3 ruang cath lab.

Untuk prosedur PAC, dokter hanya akan melihat dan menilai kondisi jantung. Jika diharuskan ada tindakan lanjutan, misal pasang ring (PCI), maka akan dibuatkan jadwal berikutnya. Jadi, kateterisasinya lebih dari sekali. :(

Sekedar info, di rekening RS, tertera biaya prosedur kateterisasi yang saya jalani total sekitar Rp11 juta. Sedangkan bila pasang ring, berkisar Rp60 juta (tergantung jumlah dan kualitas ring/stent).

Demikian sharing pengalaman saya mendeteksi dan mengobati penyakit jantung koroner. Semoga membantu, ya. Dan untuk Anda, para calon pasien, pasien, maupun keluarga pasien, tetap semangat. Lebih baik mengetahui penyakit dalam tubuh, agar bisa mulai berhati-hati. Optimis, dengan ikhtiar menuju sehat, insyaAllah, Allah Yang Maha Kuasa tak akan menutup mata. Aamiin. 

Salam sehat, sayangi jantung Anda!

Rabu, 23 November 2016

Hidup dengan Penyakit Jantung Koroner (2): Kateterisasi/Angiografi Koroner




Berbekal dugaan adanya penyumbatan koroner di jantung saya (baca kisahnya di sini), saya dijadwalkan untuk melakukan angiografi koroner.  Ouh, apaan, tuh?


Pengertian

Angiografi adalah tindakan intervensi non bedah untuk melihat kelainan yang diduga terjadi di jantung. Ia menjadi gold standart untuk mendiagnosa PJK, dengan tingkat keakuratan bisa dibilang 100%. Jika angiografi dilakukan untuk melihat pembuluh darah arteri, maka disebut arteriografi.
Sebetulnya, tindakan ini termasuk dalam lingkup radiologi. Sebab, menggunakan teknik xray dan fluoroscopy. Gampangnya sih, me-rontgen isi jantung, hehehe. 

Di Mana?

Di kamar operasi, yaa? Tenang, santai aja. Bukan, kok. Kateterisasi dilakukan di lab kateterisasi (cath lab). Sebuah ruang super duingin dengan AC 15 PK (kata perawatnya), dilengkapi  ranjang mirip meja rontgen yang bisa digerakkan, monitor besar, dan peralatan lain. Memang, sih, suasananya mirip operation theatre. Tapi, bukan. Ini CATH LAB! *penting banget ini digarisbawahi, supaya pasien nggak ketakutan berlebih- tunjuk idung

Jadi?

Jadi, sebuah selang tipis-lentur-panjang, akan dimasukkan melalui akses di area paha atas dekat selangkangan, atau pergelangan tangan pasien. Semacam dicoblos jarum agak gede gitulah. Bukan disayat atau dilubangi, yah. ;)

Selang ini disebut kateter. Makanya, secara awam sering disebut kateterisasi jantung. Nah, kateter ini akan ‘didorong’ di dalam pembuluh darah besar sampai ke jantung. Lalu, dokter akan menginjeksikan cairan kontras ke jantung. Dan seerrrr … semua bagian pembuluh jantung akan terlihat jelas. Dokter pun bisa menganalisa apa yang terjadi di dalam sana. 

Bagian terbaiknya adalah: pasien hanya dibius lokal. Jadi, tetap sadar selama proses dan bisa mengikuti arahan dokter. 

Sounds horrible? Serem? Ih, iyaaa … Hehehe. Tenang, tenang … Nggak usah takut! Serius.  *gaya! Siapa yang kemaren nggak bisa tidur dan nangis gegara takut? :p

Amankah?

Sesuai perkembangan dunia kedokteran dan kecanggihan alat, insyaAllah prosedur ini aman. Dalam arti, dilakukan oleh dokter operator dan tim yang sudah berpengalaman. Kata sang perawat, mereka melakukan angiografi sebanyak sampai 15 jadwal setiap harinya. Terlatih, kan?

Tentu setiap tindakan ada resikonya. Tapi tim dokter pasti akan melakukan yang terbaik. Angiografi dilaporkan amat minim resiko mayor. 

Setelah Angiografi Selesai

Dokter/perawat akan mengeluarkan kateter (nggak sakit, kok). Lalu, tempat bekas coblosan tadi ditekan kuat agar darah tak keluar. Terus diperban. 

Kalau tempatnya di paha, area tadi akan ditindih bantal kecil berisi pasir yang berat. Pasien DILARANG menggerakkan/menekuk kaki tersebut selama minimal 6 jam. Jadi, harus bed rest di rumah sakit. Sekaligus diobservasi, apakah terjadi perdarahan atau bengkak.

Jika di tangan, pasien diberi semacam gelang untuk menekan bekas aksesnya, dan bisa langsung beraktivitas.

Pasien juga dianjurkan banyak minum, untuk membilas cairan kontras dari tubuh kita sesegera mungkin. In my case, susaaaah karena BAK kudu pakai p**pot. Hiks.

Beberapa pasien mungkin akan mengalami komplikasi, seperti memar, bengkak di area cath, dan pendarahan. Namun, asal mentaati perintah dokter, insyaAllah semuanya baik-baik saja.

(Komplikasi: Yah, karena salah pengertian, saya mengalami sedikit problem. Hari ketiga pasca cath, paha saya memar kehitaman, makin lebar tiap hari. Di area akses juga sedikit bengkak. Saya kesulitan bergerak dan kesakitan jongkok di toilet sekitar 2 mingguan. 


Ternyata, setelah cath, seharusnya pasien kalem dulu. Santai-santai. Boleh aktivitas, tapi nggak boleh ngoyo. Saya? Eeeungg ... Sampai rumah langsung ambil sapu dan tongkat pel. Jalan juga gagah perkasa. Atuh panteees langsung memar, hehehe.)


Prosedur Kateterisasi Saya

*Persiapan

Tanggal 20 Oktober setelah di-echo, saya mendaftar di bed manager BPJS di gedung Elang, instalasi khusus jantung dan pembuluh darah RSUP dr Kariadi. Jadwal kateterisasi (cath) saya 31 Oktober. Sekalian dikasih rujukan untuk cek darah.

Beberapa item yang saya ingat: gula darah sewaktu, HB, trombosit, kecepatan beku darah, dan fungsi ginjal. Alhamdulillah semua OK. Oya, biaya yang tertera di struk lab, 500 ribuan. 

*Hari H

Saya sudah harus PUASA makan sejak pukul 7 pagi. Minum air putih, masih boleh sedikit. Obat rutin juga tetap diminum.

Lalu, saya masuk kamar rawat. Ganti baju rumah sakit, dan dipasangi infus. Untuk jaga-jaga kalau perlu masukin obat nantinya. Saya juga menandatangani banyak formulir. Salah satunya persetujuan dilakukan tindakan.

Sekitar pukul setengah 1 siang, saya diantar ke cath lab. Pakai kursi roda. Dan dadah-dadah ngeri ke suami yang nggak boleh ikut masuk. Padahal, ternyata lama juga saya nunggu di luar ruang 3. Hiks. Teman saya hanya lafadz dzikir dan berusaha berpikir positif.

*Di Cath Lab

Saya masuk cath lab juga jalan kaki. Lalu berbaring di atas ranjang yang sudah dialasi semacam diaper lebar. Di atas saya, ada lampu operasi yang terang  tapi tak menyilaukan. Di atas kepala, ada receiver (untuk apa saya lupa). Di sisi kiri, ada 4 monitor besar.

Supaya nggak takut, saya kerahkan indera untuk merekam semua yang terjadi. Buat bahan nulis dan berbagi, hihihi.

Seorang perawat wanita yang lembut, ramah, tapi sangat efisen, membantu saya. Tak boleh mengenakan pakaian dalam, dan area sekitar akses kateter harus dibersihkan dari rambut halus. Setelah siap, perawat lain melampirkan *eh, apa yah istilahnya* beberapa kain penutup di sekujur tubuh. Kain berlubang diletakkan di paha kanan. Di situ nanti dokter akan melakukan akses.

Saya juga dihubungkan dengan alat EKG. Jadi, selama proses, irama jantung  dan tekanan darah terpantau. Suaranya, nat-nit-nat-nit berirama jadi back sound, hehe.

Saya boleh tetap pakai jilbab dan kacamata.

Oya, saya juga ditanya apakah ada alergi obat, terutama obat bius, antibiotik. Ini penting untuk menentukan jenis bius yang akan dipakai.

Ada perawat yang mengasisteni dokter. Dia mensterilkan area akses, menyiapkan 2 kateter puanjang, obat bius, kapas, dll. Ada teknisi. Ada beberapa residen atau dokter PPDS. Pokoknya ramai. Mereka ngobrol, bercanda, juga ngajak ngobrol saya. Kayaknya mereka sengaja deh, supaya nggak tegang.

Sebelum mulai, dokter dan perawat mengajak saya berdoa untuk kelancaran tindakan. Tapi, saya malah tambah nerves. Huaaa.

*Jadi, Here We Go!

Dr Susi bilang ini akan sedikit sakit awalnya. Yaitu waktu suntik anastesi. Saya diminta tarik nafas panjang. Dengan mengucap bismillaah, dokter mulai bekerja. Cuuss! Lumayaaan, huhuu. Sebentar kemudian, cuusss, selubung kateter dicobloskan. Auch! 

Dan setelah itu, Allaahu akbar! Saya hanya merasakan dr Susi menepuk-nepuk kaki saya, untuk menggerakkan kateter. Dan tiba-tiba saja di monitor, terlihat si ujung kateter sudah nongol di jantung! Tak ada rasa sakit sama sekali! Bahkan saat cairan kontras dimasukkan, saya tak merasakan sensasi apapun.  

Ternyata, pembuluh darah tak memiliki serabut saraf. That’s why I didn’t feel anything.

Takut saya sirna. Saya takjub, mengamati gambaran jantung saya yang berdenyut-denyut. Entah kenapa, mendadak saya yakin semua akan baik-baik saja. MasyaAllaah.

Dokter beberapa kali mengambil foto xray. Lalu, beliau berseru riang, “Yak, selesaai! Ibu, ada penyempitan yang tidak siginifikan di pembuluh cabang. Nggak perlu ring, ya. Pake obat aja. Besok pagi boleh pulang!”

Ya Allaah, saya speechless. Again
Saya memang menderita PJK. Tapi, proses cath yang lancar, hasil yang katanya tidak signifikan, nggak di-ring, nggak ditindak lainnya, adalah sesuatu yang harus saya syukuri. Alhamdulillaah …


Hidup dengan Penyakit Jantung Koroner (3): Masih Muda, Kok Bisa?



Iya. Masih muda, langsing pula (huehehe). Mana bisa kena sakit jantung? Bukannya yang jantungan itu biasanya mbah-mbah, atau orang yang berlebih berat badan? Atau yang gaya hidupnya amburadul? 

Hmm, sebetulnya siapa saja bisa terkena penyakit jantung koroner (PJK). Jika dulu disebutkan PJK adalah penyakit lansia, sekarang  tidak lagi. Semakin banyak manusia produktif (baca: muda) yang terjangkit PJK. Bahkan, wanita muda yang masih mendapat haid teratur pun bisa terkena juga. Buktinya, saya! Dan tadi waktu kontrol, saya bertemu wanita kurus, muda (37 tahun), aktif aerobik, terindikasi PJK.

Lalu, apa penyebabnya?

Sebenarnya, setiap orang memiliki faktor resiko. Semakin banyak faktor itu Anda miliki, semakin besar Anda beresiko terkena PJK. Seridaknya, ada 2 macam faktor resiko pada PJK:

1     *Faktor yang bisa diubah, antara lain: obesitas, pola makan, gaya hidup (merokok, minum alkohol, jarang olahraga), hipertensi, kolesterol tinggi, diabetes mellitus, stres.

2     * Faktor yang tak bisa diubah: usia, jenis kelamin (konon pria lebih rentan), riwayat keluarga kandung dengan PJK.

Kurus/Langsing = Nggak Mungkin?

Salah besar!

Ternyata, tubuh langsing belum tentu sehat. Mbak langsing 37 tahun yang saya temui, hasil lab-nya di atas normal semua. 

Sepertinya, kegemaran orang Indonesia makan makanan yang digoreng (apalagi sampai kemriuk dan kemripik) menjadi salah satu pencetus besarnya angka penderita PJK tiap tahunnya. Jadi, makanan yang tinggi kadar lemak berbahaya. Gorengan, santan, bumbu kacang yang berminyak-minyak, Indonesia banget, kan?

Pola makan salah seperti ini, berlangsung sejak kecil. Puluhan tahun. Akibatnya, diam-diam pembuluh darah jadi ‘kotor’. Dindingnya mulai ‘berkerak’, selapis demi selapis. Tanpa ada tanda/gejala, ia menjadi mengeras dan menebal. Terjadilah arterioklerosis, pengerasan pada pembuluh arteri. Tercetuslah PJK.

Belum lagi mereka yang merokok aktif. Atau, mereka yang lama terpapar asap rokok – perokok pasif. See

Saya, tinggi 170 cm berat 64-65 kg dalam dua tahun ini.  Saya juarang jajan gorengan pinggir jalan. Tapi, menu harian di rumah: tempe-tahu-telur-ikan goreng. Saya nggak hobi jeroan, daging merah kalau Idul Adha aja *eh, namun menu harian jaraaang banget sayuran hijau. Buah, apalagi. :(

Nah, dengan pola makan yang salah sejak kecil, nggak pernah olahraga, plus riwayat PJK dalam keluarga, sampailah saya pada vonis PJK di usia muda. :(
Harus Bagaimana?

Ubahlah gaya hidup sekarang juga! 
Beresiko maupun tidak, sekaranglah saatnya Anda mengubah mindset. Sehat adalah segalanya. Jangan sampai menyesal.

*Kurangi makanan gorengan, bersantan, berlemak, jeroan, dll dll. 
*Stop merokok. Merokok membunuhmu, itu absolutely benar! Andai Anda nggak terbunuh oleh rokok sekalipun, maka orang tercinta di sekitar Anda terkena dampaknya. Sadarlah, please!
*Olahraga ketahanan (lari/jogging, jalan cepat, bersepeda, renang) minimal 30 menit setiap hari.
*Jaga pola tidur
*Kelola stres, jangan lupa bahagia :)
^Dan, jangan abaikan alarm tubuh. Jika Anda merasa ada yang nggak beres dengan tubuh Anda, dengarkanlah. Lebih baik ditertawakan karena dianggap berlebihan, daripada terlambat menyadari.

Yang Saya Lakukan

Kontrol ke dokter jantung sebulan sekali selama minimal setahun. Disiplin minum obat (obat jantung untuk mengobati dan mencegah serangan, pengencer darah, penstabil kolesterol). Saya berusaha makan sehat: kurangi atau stop nasi, ganti dengan makan sayuran (kalau bisa mentah, ya) sebanyak-banyaknya, buah, lsuk nongoreng (rebus, kukus, pepes, tim), minum air hangat, olahraga jalan cepat semampu saya. 

Saat ini, saya juga sedang mencoba ramuan herbal yang dianjurkan banyak orang. Hasilnya, nanti saya ceritakan kalau saya sudah selesai coba, yaa. Insya Allaah.

Salam sehat!

Hidup dengan Penyakit Jantung Koroner (1)



Siapa sangka, tak dinyana. Benar-benar bagai petir di siang bolong. Tiba-tiba, saya menjadi salah satu pasien penyakit jantung koroner (PJK). Hari itu, segalanya berubah drastis. Hari itu saya tahu, hidup saya tak akan sama lagi. Benarkah? Yuk, ikuti kisah saya.

Serangan di Malam Hari

Sabtu malam, 1 Oktober 2016. Saya ingin tidur cepat, setelah ikut acara tahlilan hari kedua wafatnya tetangga sebelah rumah. Seperti biasa, saya tidur bertiga dengan suami dan si bungsu. 

Entah berapa lama saya tidur, saya nglilir, tapi masih terpejam. Saya merasakan tak nyaman di area leher dan tengah dada. Seperti sesak, agak tercekik. Beberapa menit, saya tak tahan. Saya bangun dan ke dapur untuk minum air putih hangat. Sesekali saya terbatuk. Karena masih merasa sesak di dada, saya minum Laserin (karena saya kira saya terserang batuk).

Namun, naluri berkata lain. Saya merasa ada yang berbeda. Ini bukan batuk! Bukan pula maag yang kumat. Dada tengah sampai pangkal leher, rasanya seperti dibebat dan diikat kuat. Saya megap-megap sambil duduk. Jantung berdebar kencang, karena saya merasa cemas luar biasa. 

Suami saya bangunkan. Beliau menawari mengeroki saya. Saya menggeleng. “Ke rumah sakit?” tawarnya. Saya mengangguk. Akhirnya, tengah malam itu saya lari ke UGD sebuah RS swasta di kota kami.

Saya masih bisa jalan masuk UGD. Dokter dan perawat menanyai macam-macam. Dengan selang oksigen di hidung, saya diperiksa. Paru-paru dan perut bagus. Dokter mengusulkan rekam jantung (EKG/elektrokardiografi). Wuah, saya langsung mbrebes mili. Berkaca-kaca. Saya sakit apa? Tetangga saya baru meninggal karena komplikasi jantung dll, dan sekarang saya harus rekam jantung?

Sembari suster memasangi banyak elektroda di dada saya, suami menepuk-nepuk menenangkan. “Nggak apa-apa,” bisiknya. Tapi saya tahu, dia juga sedikit kaget.

Syukurlah, kata dokter jaga, hasil EKG bagus. NORMAL. Mungkin saya hanya mau terserang  ISPA. Nggak perlu opname. Saya diberi obat asam lambung, obat batuk berdahak, dan obat penenang. Well, oke. Mari kita pulang ke rumah. Malam itu, berbekal hasil EKG yang katanya normal, saya bisa tidur nyenyak. 

Serangan Kedua

Empat hari kemudian, saya merasa cukup sehat untuk rewang selamatan sang tetangga. Padahal mah cuma kebagian ngupas telur rebus, sih. Hehehe. Lalu saya pulang untuk menjemur cucian. Lha, kok, mendadak saya merasa nggliyeng, agak sesak lagi. Dengan cepat, dada terasa semakin sesak, dan kepala-leher-wajah kesemutan. Whoa, saya kembali ketakutan!

Sorenya, saya diantar suami periksa ke dokter spesialis penyakit dalam, dr Aris. Kondisi saat itu, masih seseg, wajah sampai telapak tangan kesemutan. Dokter yang baik itu mencurigai ada masalah dengan jantung. Apalagi, saya ada riwayat jantung koroner dari almarhum Papah. “Tapi, bisa juga, sih, ini GERD,” katanya. Makanya supaya jelas, saya disuruh cek darah profil lipid, rontgen thorax/dada, dan EKG ulang.

Berbekal arahan dr Aris, saya bermaksud minta rujukan BPJS ke dokter keluarga untuk check up di faskes 2. Tapi oh tapi, karena kondisi umum saya segar bugar (padahal mah saya masih eungap, muka kesemutan, tapi kan nggak terlihat), dokter keluarga nggak bisa kasih rujukan untuk cek segala rupa itu. Wislah, saya periksa mandiri saja di RSUD setempat. Murah meriah. Hanya 216 ribu, dapat semua (kalau di RS swasta atau di lab, bisa habis 700 ribuan), hehehe. *namanya juga emak-emak, irit to the max :p 

Dan, taraa…

Hasil cek darah, kolesterol total di atas ambang normal, 220 dari 200. Lainnya normal. Pada rontgen dada, terdapat gambaran bronchitis. Saya sempat berpikir, ooh pantees sesak. Lalu, tibalah saat dr Aris membaca hasil EKG. Beliau terdiam, kemudian menandai beberapa bagian di kertas EKG.

“Apa itu, Dok?”

“Ini gambaran iskemik.”

Saya melongo.

“Kondisi jantung yang kekurangan suplai oksigen. Biasanya disebabkan oleh penyumbatan pembuluh darah di jantung,” jelas dr Aris.

Oh. Saya speechless. Akhirnya saya dirujuk ke spesialis jantung dan pembuluh darah di RSUP dr Kariadi Semarang.

Masih Muda Kena Koroner?

Ya. Pasien di klinik jantung RSUP dr. Kariadi, mayoritas sudah berumur. Saya termasuk yang paling kinyis-kinyis nan unyu :p

Dr Susi, dokter jantung yang saya tuju, juga setuju. Saya seharusnya masih terlalu muda untuk kena PJK. Karena biasanya, wanita yang masih mendapat haid teratur, jantungnya masih ‘aman’. Sebab, ada hormon estrogen yang salah satu fungsinya untuk melindungi kesehatan jantung. Namun, hasil EKG tak bisa bohong. Sang dokter geleng-geleng lihat EKG saya. Ada indikasi PJK. :(

Akhirnya, saya dijadwal untuk USG jantung (ekokardiografi). Hasilnya, kembali sang dokter berdecak. Ada bagian otot jantung yang kerjanya abnormal, kurang kuat. Dugaan utama, ada penyumbatan. Dokter Susi menyarankan untuk melakukan kateterisasi jantung (angiografi/PAC). Tujuannya, melihat benarkah ada penyumbatan, di mana, dan seberapa parah. Dari situ, dokter bisa menetukan treatment yang tepat.

Saya, sebagai pasien yang sedang galau suralaw, hanya bisa mengiyakan. Yah gimana nggak galau atuh … Saya diduga menderita salah satu penyakit paling mematikan di muka bumi ini. Di saat yang sama, saya harus ninggalin si bungsu yang sedang opname dan menunggu hasil lab darah untuk menentukan diagnosa.

Ya Allah, ya Allah. Hanya mengingat-Nya dan memohon pada yang Maha Penyayang yang bisa saya lakukan.

Baca lanjutannya, yaa.