Terpilih Menjadi Penulis Model Buku Nonteks Pusbuk Kemendikbud (2): Belajar Lagi!

Oktober 05, 2022

Assalamualaikum, halo halo lagi. 

Alhamdulillaah, masih bisa bertemu teman-teman lewat blog post. Makasih banyak yaa sudah mampir dan membaca. Mudah-mudahan ada kebaikan yang bisa dipetik dari cerita Emak Penulis ini.

Nah, kali ini, saya mau cerita tentang perjalanan saya ke Bandung, dalam rangka acara pembekalan calon penulis model buku nonteks Pusat Perbukuan (Pusbuk) Kemendikbud 2022. Untuk cerita bagian pertama, bisa teman-teman baca di sini.


Mendadak Pergi

Jadi, setelah dinyatakan lolos seleksi, para penulis terpilih diundang menghadiri acara pembekalan penulis. Kok, pakai pembekalan segala? Iyalah ... menulis buku anak kan sebenarnya bukan perkara sepele. Ada banyak hal yang harus diperhatikan. Apalagi ini untuk buku rujukan, insya Allah. So, harus digarap dengan lebih serius.

Acara pembekalan dilaksanakan di Hotep Ibis Trans Studio, Bandung, pada 29 Agustus - 1 September 2022. Dikasih tahu lolos Jumat magrib, pukul sepuluh malam dapat undangan, Minggu sudah harus berangkat! Mendadak bangeet. 

Auto langsung sibuk cari tiket kereta. Tiket dapat, terbit masalah lain. Ternyata saat itu, penumpang kereta yang belum booster wajib PCR, bukan antigen. Hebohlah saya. Nggak ada PCR di kota kecil ini. Piyee jal. 

Cari info booster juga susah. Sempat berburu di ekspo alun-alun, menembus kemacetan dan lautan orang, eeh HABIS! Pengen nangis nggak sih. Masa batal berangkat gara-gara belum booster. Sungguh terlalu. Alhamdulillah, akhirnya dapat juga di CFD. Fiuuh. Lega. Pagi booster, malam berangkat. 🥲


Akhirnya bisa berangkat, naik KA Harina. Yeeii.

Sampai di stasiun Bandung pukul setengah 5 pagi. Nunggu teman-teman di masjid. Hehe.

Singkat cerita, saya sampai di Bandung. Bertemu teman-teman penulis yang ceria, ramah, dan heboh. Saya yang pendiam dan introvert ini jadi terbawa senang, haha.

Baca juga: Bertemu Teman-teman Penulis Buku Anak di Bandung

Setelah registrasi, saya beruntung bisa langsung dapat kunci kamar. Ibu panitia, mengizinkan saya early check in untuk bersih-bersih. Maklum, berangkat malam, sampai subuh, dan nunggu sampai pukul 2 siang itu sesuatu. Hehe. 

Alhamdulillah, kamarnya nyaman banget.

Perlengkapan prokes dari Pusbuk: masker, hand sanitizer, sampai jelly jahe. 😁


Pembekalan Hari Pertama


*Perjenjangan Buku Anak

Acara hari pertama dimulai pukul 2 siang, diawali dengan pembukaan. Kemudian lanjut materi tentang perjenjangan buku yang dibawakan oleh Pak Bambang Trim. 

Tidak ada anak yang nggak suka baca. Yang ada, anak yang suka baca, dan anak yang baca buku yang salah - James Patterson

Menurut Pak BT, salah satu penyebab tingkat literasi kita rendah adalah sulitnya pembaca (anak) bertemu bacaan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan mereka. Oleh karena itu, penting untuk menulis buku yang disesuaikan dengan perjenjangan. Dengan demikian diharapkan anak-anak akan menemukan bacaan yang sesuai dan disukai -- yang akhirnya akan meningkatkan minat baca. 

Di Indonesia, telah dirilis aturan perjenjangan buku anak terbaru. Teman-teman bisa cek di laman Kemendikbud.


*Buku Ramah Anak

Setelah Pak BT, materi berikutnya disampaikan oleh Mbak Sofie Dewayani. Beliau adalah Ketua Yayasan Litara. Mbak Sofie memaparkan tentang buku yang ramah anak.

Buku ramah tentunya buku yang baik dari segi konten maupun visual 'aman' dikonsumsi oleh anak sesuai perjenjangannya. Buku ramah anak memiliki tema yang menarik minat anak, serta mengisahkan tokoh yang relate dengan anak.

Tentang buku ramah anak

Buku yang ramah bisa berfungsi sebagai jendela di mana anak bisa memandang dunia luas di luar sana; berperan sebagai pintu geser, di mana anak seakan dapat ikut merasakan pengalaman/petualangan si tokoh; atau sebagai cermin, di mana anak bisa melihat dirinya mirip dengan apa yang dibacanya di buku. 

Whuah, sampai di sini sudah menarik banget kan, yaa, materinya! Menarik plus bikin pusing, karena banyak info yang didapat dan harus dicerna dalam satu waktu. Masya Allah. Berasa diingatkan lagi dengan suasana workshop Room to Read waktu itu. Pusing tapi senang, hihi.


*Penokohan yang Kuat

Setelah makan malam, acara berlanjut dengan materi membuat penokohan yang kuat. Materi ini disampaikan oleh Mbak Eva Nukman. Cerita yang menarik harus dijalankan oleh tokoh cerita yang kuat. Tokoh yang kuat, akan mengalirkan cerita yang seru dan smooth.

Bagaimana cara membuat tokoh cerita yang kuat? Salah satu tipsnya adalah dengan mengenal tokohmu sebaik mungkin. Siapa dia? Apa keinginan terkuatnya? Kenapa dia menginginkan hal tersebut? Apa saja yang menghalanginya mencapai keinginannya? Jawaban dari pertanyaan di atas, akan membentuk inti cerita atau premis!

Mbak Eva Nukman dan materi tentang karakter

Lalu, rancang/desainlah tokoh secara tiga dimensi. Bagaimana sifat tokohmu? Bagaimana ciri fisiknya? Bagaimana lingkungannya? Daan seterusnya. 

Ketika diberi kesempatan untuk bertanya, sepertinya kami diam semua. Terlalu terpukau, otak full, plus lelah. Dan tentu saja langsung pusing dengan tugas hari pertama: merevisi konsep yang telah kami buat untuk seleksi, berdasarkan masukan mentor. 😅

Oya, kami dibagi menjadi beberapa grup:

Grup jenjang A, mentornya Mbak Sofie Dewayani. Grup jenjang B1, dimentori Mbak Eva Nukman. Grup jenjang B2, digawangi Mbak Dian Kristiani. Grup jenjang B3 dikawal oleh Mas Benny Rhamdani. Sedang grup jenjang C, dimentori Pak BT.


Pembekalan Hari Kedua

*Kesetaraan Gender, Disabilitas, dan Iklusi Sosial dalam Buku Anak

Hari kedua, setelah sarapan full tank, kami berjumpa dengan sesi yang sangat membuka wawasan, sekaligus menyentuh. Materi tentang GEDSI (Kesetaraan GEnder, DisabilitaS, dan Inklusi Sosial), disampaikan oleh tim dari INOVASI.

Paparan tentang GEDSI dari tim INOVASI

Intinya, INOVASI berharap, buku-buku anak dapat membantu mengenalkan dan merepresentasikan isu kesetaraan gender, disabilitas, dan inklusi. Salah satu poin pentingnya: jangan menyampaikan cerita disabilitas dengan kesan mengasihani. Selain itu, yang dimaksud kesetaraan gender bukanlah semisal perempuan yang ingin mengalahkan laki-laki, tetapi lebih ke kesetaraan peran dan peniadaan stigma. *berat, Bun, bahasannya

Oya, di sesi ini ada narsum yang mewakili ibu dari anak disabilitas. Beliau sangat berharap, akan ada banyak buku yang menceritakan tentang dunia disabilitas. Kemudian, ada Ibu ** yang menyampaikan materi dengan dibantu interpreter. Masya Allah. Saking terpukau, sampai segan mau ambil foto. 🙏


*Alur Cerita

Sesi berikutnya diisi oleh Mas Benny Rhamdani. Beliau menjelaskan tentang bagaimana alur cerita menarik dibuat. Yes, materi ini cocok buat penulis yang suka bertanya-tanya, kenapa cerita yang ditulis kok terasa datar dan membosankan. Hehehe.

Nah, salah satu trik tertua yang bisa dipakai adalah resep Rule of Three, atau 3 act structure. Intinya, cerita dibuka dengan opening yang memikat, lalu dibuat menanjak tensi ceritanya sampai ke puncak, dengan memberikan 3 babak halangan untuk si tokoh. 

Materi mengenai alur cerita oleh Mas Benny Rhamdani

Fiuuh. Kepala tambah berasap, yagesya. 😁


*Elemen Pengembangan Naskah

Sesi terakhir hari kedua diisi oleh Mbak Dian Kristiani. Mbak Dian memaparkan dengan seru plus kocak, apa saja yang bisa diperbaiki dan dikembangkan pada naskah, agar tambah ciamik. Salah satunya adalah dengan kembali ke desain karakter/tokoh yang kuat dan tak tergantikan. 

Mbak Dian Kristiani menjelaskan mengenai pengembangan naskah

Pertanyaan sekaligus pernyataan favorit Mbak Dian be like, "Kenapa tokohku X? Kalau X diganti S, apakah ceritamu akan berubah alurnya? Kalau nggak berubah, berarti tokohmu belum kuat!"

Ahahaha. Kena, deh.

Demikianlah, dua hari penuh materi sejak pagi. Kepala penuh, pikiran full, revisian menanti. Malam kedua, grup saya kerja dari kamar saja, nggak di ruang meeting. Kami harus konsen mengerjakan konsep untuk dipresentasikan di hari ketiga.

Whuaa, presentasi!


Pembekalan Hari Ketiga

Hari ketiga ini, full diisi presentasi oleh seemuaa peserta pembekalan. Setiap penulis harus memaparkan konsep ceritanya. Kemudian dikomentari oleh mentor-mentor dan tim art director.

Ngeri? Pastiii.

Saya kebagian jelang sore hari. Meskipun suara ndredeg, alhamdulillaah terlewati. Revisikah?

Woy, tentu saja! Menulis = menulis ulang. Write is about rewrite (lupa ini quote siapa). Nggak ada naskah/draf pertama yang sempurna. 

Sampai saat blog post ini di-launching, saya sudah 3 kali ganti cerita dengan 3 tokoh berbeda. Dan untuk tokoh terakhir, paling nggak saya sudah ganti/bongkar alur cerita sebanyak ... 6 kali? *senyumin sajaa


Pembekalan Hari Keempat

Karena presentasi sudah dipadatkan dan selesai di hari ketiga, maka hari keempat kami sudah bisa bernapas lega (sementara). Kegiatan resmi ditutup, dan kami bebas mau ngapain aja. Horeee!

Cerita hari keempat, insya Allah akan saya tulis segera. 

Begitulah, Teman-teman, keseruan dan kepuyengan yang kami rasakan. Terima kasih sudah berkenan membaca cerita yang panjang ini. Semoga ada manfaatnya, yaa.


































 

You Might Also Like

9 komentar

  1. Wihhh mantep sih ini ilmu yg penting banget buat penulis anak. Yg aku perhatiin skrg isu inklusi mulai banyak ya di buku anak. Misalnya ada tokoh disabilitas, warna kulit yg berbeda, semakin menegaskan bhinneka tunggal ika 😊

    BalasHapus
  2. Aku setuju sih. Bahwa menulis buku anak itu bukan sesuatu yang bisa kita lakukan sembarangan. Ada rujukan-rujukan yang mesti diperhatikan. Agar mendapatkan buku yang benar-;benar berkualitas dan disukai oleh kalangan anak-anak. Nggak mencemari pikiran mereka dan lain-lain.

    Semangat, bu.

    BalasHapus
  3. Mbaaa...kereeeen..!! Terima kasih sharingnya ya mba.. jadi tahu lika-likunya nulis cerita anak nih.. Smoga sukses selalu, mba..

    BalasHapus
  4. seneng bangets ekarang banyak buku anak yg berkualitas secara visual oke ceritanya juga kece. kaya buku mbak Lia nih aku ngefans berat deh. seminggu lalu pas beres2 bukunya keumala ku baru nyadar aku punya banyak banget koleksi buku tulisan mbak Lia. terus berkarya ya mbak

    BalasHapus
  5. Masyaallah, keren. Meski dari kota kecil, semangatnya luar biasa sampe bisa dapat kesempatan seperti ini. Barakallah, Mbak, semoga ilmu yang didapat dari pembekalan bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya.

    BalasHapus
  6. Kebayang seru tapi juga puyeng ya menyelesaikan tugasnya. Tapi aku yakin Lia pasti bisa udah terlihat dari karya yang ada selama ini. Sukses ya Lia, ikutan senang dengan prestasinyaa

    BalasHapus
  7. Selamat ya mbak bisa terpilih...seru banget ya kegiatannya..ada presentasinya juga ya..btw anak2 sekarang itu susah banget ya mbak klu disuruh baca buku termasuk anak saya nih..

    BalasHapus
  8. Terimakasih artikelnya Bu, jadi sedikit lebih tahu proses nulis. Bismillah semoga bisa nulis cerita anak yang bagus seperti Bu Lia.

    BalasHapus
  9. Wuiihhh padat sekali materi dan tugasnya, luar biasaaa... kebayang berasap banget rasanya ya kepala. Insya Allah jadi jalan untuk menyampaikan kebaikan lewat tulisan yaaa... Seneng lho ndaaaa duwe konco penulis ngene iki. ;)

    BalasHapus