­

Lolos GLN 2024!

September 12, 2024


Assalamualaikum, halo, Kawan-Kawan Emak Penulis. Apa kabar? Ternyata oh ternyata, sudah hampir setahun blog ini nggak saya tengok. Hehe.

Setahun ini, memang banyak hal terjadi, sih. Dari yang menyedihkan, sampai menyenangkan. 

Naah, salah satu yang menyenangkan tuh, tahun ini saya lolos lagi untuk kedua kalinya di sayembara penulisan cerita anak Gerakan Literasi Nasional 2024. Alhamdulillaah, senang sekali! Apalagi, tahun ini saya kirim dua naskah dan lolos semua. Masya Allah.


Sekilas tentang GLN 2024

Ada yang baru dengar tentang sayembara GLN? Jadi, sayembara ini diadakan oleh Badan Bahasa Pusat Pembinaan Kemendikbudristek. Biasanya, diadakan sekitar bulan Maret setiap tahunnya.

Yang dilombakan adalah naskah cerita anak bergambar. Berupa naskah atau storyboard plus contoh ilustrasi berwarna dari naskah tersebut. Penulis yang tidak bisa mengilustrasi, harus berkolaborasi dengan ilustrator profesional. Info lengkap bisa cek di laman Badan Bahasa, yaa.

Flyer info sayembara 

Nah, pada GLN 2024 ini, output-nya berupa 300 buku cerita anak jenjang B1, B2, dan B3,  serta 50 buku cerita jenjang D. Banyak banget! Biasanya hanya sekitar 80-an buku. 

Oya, mengenai perjenjangan buku, bisa lihat di laman Pusat Perbukuan. Jenjang A adalah buku untuk anak PAUD. Jenjang B untuk usia SD awal sampai sekitar kelas 4. Jenjang C, untuk kelas 5-6. Jenjang D, untuk usia SMP, sedangkan jenjang E untuk usia SMA.

Balik lagi ke GLN, ya. 

Kepo nggak, sama hadiahnya? Hehe.

Hadiah GLN tentu saja uang. Plus buku diterbitkan oleh Kemendikbudristek, disebarluaskan ke seluruh Indonesia pula. Belum lagi, para penulis terpilih akan diundang menghadiri acara pertemuan penulis di Jakarta. Ini nih yang seru dan selalu bikin kangen.

Hadiahnya bikin ngiler 😁

Tahun ini, setiap penulis hanya boleh kirim 2 naskah dari 2 jenjang berbeda. Saya kirim cerita jenjang B1 dan B3. 

Panitia menyediakan beberapa teman yang bisa dipilih untuk ditulis. Plus, fokus karakter/nilai-nilai yang ingin dimasukkan dalam cerita.


Tema Pencegahan Kekerasan pada Anak

Untuk jenjang B1, saya ambil tema pencegahan kekerasan pada anak. Karena ini jenjang anak yang baru lepas TK/SD awal, saya kepikiran menulis tentang anak laki-laki 'cengeng'. 

Selama ini, di masyarakat kita masih ada anggapan bahwa anak laki-laki nggak boleh nangis, harus kuat. Kalau dia mudah nangis, auto dicap cengeng. 

Padahal menurut psikolog (iya, saya konsultasi dengan psikolog dalam menulis cerita-cerita saya), ada anak yang memiliki karakter sangat sensitif, sehingga dia mudah menangis. Hatinya halus, bukan cengeng.

Sayangnya, anak seperti ini sering kena judge yang kurang baik dari orang lain. Padahal anak-anak ini punya kemampuan empati yang sangat tinggi, lho.

Contoh ilustrasi dan cuplikan dari
naskah cerita jenjang B1 

Untuk naskah GLN, saya hadirkan si anak sensitif ini dalam tokoh anak macan tutul Jawa jantan yang langka. Tera Ingin seperti Raja, judulnya. Bercerita tentang Tera macan tutul kecil yang lembuut hatinya, sehingga mudah menangis. Padahal dia ingin seperti Raja, macan tutul dewasa yang gagah.

Saya berkolaborasi dengan Mbak Takinells di cerita ini.


Tema Pengenalan Literasi Kewargaan

Awalnya saya bingung, apakah literasi kewargaan ini sama dengan kewarganegaraan? Atau macam yang dipelajari di mapel PKn? Jadilah saya riset sana-sini.

Kesimpulannya, literasi kewargaan berkaitan dengan peran anak sebagai warga negara. Mulai dari keluarga, sampai lingkungan yang lebih luas.

Saya menulis tentang Korie, anak perempuan yang punya nenek penyandang demensia (orang awam menyebutnya pikun). Oma Korie sudah banyak lupa, jadi harus selalu dijaga dan dibantu.

Contoh ilustrasi dan cuplikan dari
naskah cerita jenjang B3

Ini kali kedua saya menulis tema demensia. Saya ingin lebih banyak orang tahu tentang penyakit ini. Kawan bisa kunjungi laman ALZI Indonesia untuk kenal lebih lanjut tentang demensia dan alzheimer.

Cerita ini dibalut nuansa lokalitas Maluku, di mana alat musik tahuri menjadi sumber konflik cerita. Tadinya sih untuk jenjang B2. Tapi setelah saya tulis, kok sepertinya lebih pas kalau dinaikkan ke jenjang B3. 

Jadilah naskah Di Mana Kulibia? yang diilustrasi oleh Mbak Lydia Angela.


Dua Naskah Lolos GLN 2024

Alhamdulillah, di tengah ujian yang datang bersamaan dengan timeline GLN, Allah beri saya kemampuan untuk menyelesaikan dua naskah saya.

Awalnya sempat ingin menyerah, apalagi saya juga habis 'tempur' menyelesaikan naskah untuk sayembara buku cerita anak Balai Bahasa Jateng. Rasanya nggak sanggup mikir lagi. 

Namun, saya takut mengecewakan dua rekan ilustrator yang saya ajak kolaborasi. Saya menguatkan diri untuk berkomitmen. Harus bisa.

Allah tidak tidur. 

Dua naskah yang saya kirim, lolos semua. Alhamdulillah, ya Allah. Rasanya seperti dapat hadiah langsung dari Allah SWT. Huhuu.

Alhamdulillah 

Dan akhir Juni lalu, saya dan 300-an penulis pemenang sayembara GLN diundang ke Jakarta untuk menghadiri pertemuan penulis untuk mempresentasikan karya dan mendapat masukan dari juri/mentor.

Pertemuan diadakan di Hotel Le Meridien. Lain kali saya ceritakan di postingan lainnya, insya Allah.

Akhir kata, mohon doakan, yaa, cerita Tera dan Korie ini lancar proses terbitnya. Dan kelak bisa dibaca dan disukai oleh anak-anak di seluruh Indonesia.

Nah, siapa yang ingin ikutan sayembara GLN juga? Semoga tahun depan diadakan lagi.  

Aamiin. 




You Might Also Like

14 komentar

  1. Wah tema yg dipilih keren banget mba...lihat cuplikan tulisan dan ilustrasinya pun ok punya.. Sangat pantas utk lolos. Selamat ya mbaa...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillaah, terima kasih apresiasinya, Mbak.

      Hapus
  2. Iya sih ya. Anak laki-laki udah kayak dicap nggak boleh nangis. Kalau anak laki-laki mudah nangis malah dicap cengeng. Lebih parah dicap ban*i. Menyebalkan.

    Padahal, anak laki-laki juga punya emosi sedih kan ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget, Mbak Yuni. Makanya psikolog senang saya angkat tema ini. Orang-orang harus tahu, ada memang anak laki yang karakternya sensitif banget.

      Hapus
  3. Pasti banyak effort yang tercurah selama proses penulisannya, bahkan sampai menggunakan jasa psikolog. Semoga proses penerbitan dua bukunya lancar hingga di tangan para pembaca ya Lia

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin ya Allah. Terima kasih doanya, Mbak Wati. Alhamdulillaah punya teman psikolog yang senang diajak diskusi konten buku anak. Orang Semarang juga, lho beliau.

      Hapus
  4. Selamat ya mba, naskahnya bisa lolos... Kereeen euy... Ditunggu cerita lanjutannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, terima kasih apresiasinya, Mbak. Rezeki, Masya Allah.

      Hapus
  5. Selamat dan sukses mbak. Semoga karyanya menginspirasi dan menjafi teladan bagi anak Indonesia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin aamiin ya rabbal aalamiin. Terima kasih banyak doanya, Mbak Wahyu.

      Hapus
  6. Keren sekali Lia... Selamat yaaa.. langganan terpilih nih ya klo ndak salah di ajang GLN. Insya Allah buku2nya bisa menginspirasi anak2 Indonesia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin aamiin ya rabbal aalamiin. Terima kasih doanya, Mbak Uniek. Baru dua kali lolos, btw, hihi. Semoga tahun-tahun berikutnya bisa lolos lagi. Aamiin.

      Hapus
  7. MasyaAllah.. Mbak Lia keren banget lolos 2 naskah di GLN 2024.
    Salah satu impian saya, bisa lolos GLN dan ketemu penulis-penulis anak yang keren seperti Mbak Lia😍😍😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masya Allah, semoga bisa ikutan dan lolos GLN ya Mbaak. Semangatt.

      Hapus