Langsung ke konten utama

Hidup dengan Penyakit Jantung Koroner (3): Masih Muda, Kok Bisa?



Iya. Masih muda, langsing pula (huehehe). Mana bisa kena sakit jantung? Bukannya yang jantungan itu biasanya mbah-mbah, atau orang yang berlebih berat badan? Atau yang gaya hidupnya amburadul? 

Hmm, sebetulnya siapa saja bisa terkena penyakit jantung koroner (PJK). Jika dulu disebutkan PJK adalah penyakit lansia, sekarang  tidak lagi. Semakin banyak manusia produktif (baca: muda) yang terjangkit PJK. Bahkan, wanita muda yang masih mendapat haid teratur pun bisa terkena juga. Buktinya, saya! Dan tadi waktu kontrol, saya bertemu wanita kurus, muda (37 tahun), aktif aerobik, terindikasi PJK.

Lalu, apa penyebabnya?

Sebenarnya, setiap orang memiliki faktor resiko. Semakin banyak faktor itu Anda miliki, semakin besar Anda beresiko terkena PJK. Seridaknya, ada 2 macam faktor resiko pada PJK:

1     *Faktor yang bisa diubah, antara lain: obesitas, pola makan, gaya hidup (merokok, minum alkohol, jarang olahraga), hipertensi, kolesterol tinggi, diabetes mellitus, stres.

2     * Faktor yang tak bisa diubah: usia, jenis kelamin (konon pria lebih rentan), riwayat keluarga kandung dengan PJK.

Kurus/Langsing = Nggak Mungkin?

Salah besar!

Ternyata, tubuh langsing belum tentu sehat. Mbak langsing 37 tahun yang saya temui, hasil lab-nya di atas normal semua. 

Sepertinya, kegemaran orang Indonesia makan makanan yang digoreng (apalagi sampai kemriuk dan kemripik) menjadi salah satu pencetus besarnya angka penderita PJK tiap tahunnya. Jadi, makanan yang tinggi kadar lemak berbahaya. Gorengan, santan, bumbu kacang yang berminyak-minyak, Indonesia banget, kan?

Pola makan salah seperti ini, berlangsung sejak kecil. Puluhan tahun. Akibatnya, diam-diam pembuluh darah jadi ‘kotor’. Dindingnya mulai ‘berkerak’, selapis demi selapis. Tanpa ada tanda/gejala, ia menjadi mengeras dan menebal. Terjadilah arterioklerosis, pengerasan pada pembuluh arteri. Tercetuslah PJK.

Belum lagi mereka yang merokok aktif. Atau, mereka yang lama terpapar asap rokok – perokok pasif. See

Saya, tinggi 170 cm berat 64-65 kg dalam dua tahun ini.  Saya juarang jajan gorengan pinggir jalan. Tapi, menu harian di rumah: tempe-tahu-telur-ikan goreng. Saya nggak hobi jeroan, daging merah kalau Idul Adha aja *eh, namun menu harian jaraaang banget sayuran hijau. Buah, apalagi. :(

Nah, dengan pola makan yang salah sejak kecil, nggak pernah olahraga, plus riwayat PJK dalam keluarga, sampailah saya pada vonis PJK di usia muda. :(
Harus Bagaimana?

Ubahlah gaya hidup sekarang juga! 
Beresiko maupun tidak, sekaranglah saatnya Anda mengubah mindset. Sehat adalah segalanya. Jangan sampai menyesal.

*Kurangi makanan gorengan, bersantan, berlemak, jeroan, dll dll. 
*Stop merokok. Merokok membunuhmu, itu absolutely benar! Andai Anda nggak terbunuh oleh rokok sekalipun, maka orang tercinta di sekitar Anda terkena dampaknya. Sadarlah, please!
*Olahraga ketahanan (lari/jogging, jalan cepat, bersepeda, renang) minimal 30 menit setiap hari.
*Jaga pola tidur
*Kelola stres, jangan lupa bahagia :)
^Dan, jangan abaikan alarm tubuh. Jika Anda merasa ada yang nggak beres dengan tubuh Anda, dengarkanlah. Lebih baik ditertawakan karena dianggap berlebihan, daripada terlambat menyadari.

Yang Saya Lakukan

Kontrol ke dokter jantung sebulan sekali selama minimal setahun. Disiplin minum obat (obat jantung untuk mengobati dan mencegah serangan, pengencer darah, penstabil kolesterol). Saya berusaha makan sehat: kurangi atau stop nasi, ganti dengan makan sayuran (kalau bisa mentah, ya) sebanyak-banyaknya, buah, lsuk nongoreng (rebus, kukus, pepes, tim), minum air hangat, olahraga jalan cepat semampu saya. 

Saat ini, saya juga sedang mencoba ramuan herbal yang dianjurkan banyak orang. Hasilnya, nanti saya ceritakan kalau saya sudah selesai coba, yaa. Insya Allaah.

Salam sehat!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemeriksaan Jantung Koroner Menggunakan BPJS

Oktober 2016 lalu, saya menjalani beberapa prosedur pemeriksaan penyakit jantung. Mulai dari masuk UGD, sampai proses kateterisasi jantung (angiografi koroner). Pengalaman saya bisa dibaca di sini dan di sini. Saya terdaftar sebagai peserta BPJS Non PBI, ikut suami saya yang PNS. Kelas rawat kelas I. Sebagian besar prosedur tersebut di-cover oleh BPJS.
Memancing Rujukan
Mengapa hanya sebagian? Karena pada awal sakit, permintaan rujukan saya sempat ditolak dokter keluarga. Alasannya, dokkel melihat kondisi umum saya baik, tak masuk kriteria sakit serius atau gawat. Padahal saat itu, saya merasa sesak di dada dan kesemutan di semua bagian kepala. Sambil minta maaf, dokkel menyarankan saya untuk periksa mandiri dulu. Jika nanti hasilnya menjurus ke sesuatu, baru dia bisa memberikan rujukan ke RS. 
Akhirnya, saya periksa mandiri ke dokter spesialis penyakit dalam di RSUD. Dokter tersebut, alhamdulillah, merespon serius keluhan saya. Saya diminta cek darah (gula darah sewaktu, asam urat, da…