Langsung ke konten utama

Dekap Erat Jilbabmu, Nak!

Lagi-lagi, tadi saya harus menyambangi ruang BK sekolah si sulung. Bukan karena dia bermasalah -- siapa dulu dong, bundanya :D -- tapi untuk memperjelas sebuah masalah.

Begini ceritanya ...

Teh Nisa, sulung saya yang tahun ini duduk di kelas 9 SMP, kembali ditunjuk mewakili sekolah dalam sebuah lomba. Kali ini, lomba tata cara upacara bendera, dan dia kebagian tugas sebagai anggota paduan suara.

Setelah latihan sekitar seminggu, baru ketahuan bahwa kelak saat lomba, harus pakai seragam rok putih sebatas lutut. Khusus untuk jilbaber, dipadu kaus kaki panjang. Kontan saja sulung saya itu ngadu ke saya!

"Masa aku disuruh pakai kayak gitu? Nggak maulah!" cerocosnya ngambek.

FYI, Nisa memang telah berjilbab karena dia sudah baligh. Apalagi, TK-SD dilaluinya di sekolah Islam, yang notabene menjadikan hijab sebagai pakaian harian. Khusus ketika SMP, kami masukkan dia ke sekolah negeri, dengan beberapa pertimbangan:
1. Belum ada SMP Islam yang memadai saat itu
2. Agar bakat lainnya bisa terakomodir
3. Supaya dia belajar heterogenitas
4. Dan dalam keberagaman itu, dia bisa belajar mempertahankan prinsip agamanya

Di sekolahnya, memang banyak anak yang berjilbab, tapi nggak banyak yang 'memang berjilbab'. Ngerti kan, maksudnya? Hehe. Bahkan setahun terakhir, semua murid sudah wajib memakai bawahan panjang semata kaki. Tapi, kalau ternyata suatu saat ada momen yang mengharuskan 'menggunduli' atribut kemuslimahan, dengan gampangnya anak-anak itu meng-oke-kan. See?

Pegang Teguh Keyakinanmu!

Kembali ke soal rok itu, yak. Saya suruh dia bilang baik-baik sama guru/pelatih, bahwa dia tidak bisa dan tidak diperbolehkan pakai rok macam itu. Bukan masalah punya atau nggak. Ini masalah prinsip keyakinan yang harus dipegang teguh. Nggak bisa dimodifikasi seenaknya. Ntar bisa saja dong, remaja pakai kulot sepaha trus legging-an? Kan sama-sama ketutup? *huush, emak-emak esmosi :D

Kalau dia manut-manut saja, jatuhnya dosa ke siapa, hayoo? Ya yang jelas ke dialah. Kasihan, kan?

Makanya, kalau ada urusan begini, saya benar-benar mem-back up. Saya besarkan hatinya, untuk tetap mempertahankan ajaran agamanya. Saya tanamkan bahwa itu sikap yang betul. Nah, agar tidak bentrok dengan kepentingan sekolah, saya dan ayahnya mengarahkan, bagaimana cara bicara yang baik dengan guru.

Tapi namanya juga emak-emak, hadeeuh meuni nggak enak perasaan hati ini. Nggak marem kalau nggak maju sendiri, hihi. Bukan gitu juga sih, sebetulnya. Saya cuma khawatir akan terjadi miskom, mispengertian, dan mis-mis lainnya antara Nisa dan sekolah *pengalaman waktu dulu disuruh copot jilbab pas mau lomba koor :(

Jadilah Tangguh!

Maka, pagi-pagi saya sudah mandi *tumbeen* dan ngacir ke sekolah. Berhubung wali kelasnya nggak ada, saya ketemu dengan guru-guru BK, yang salah satunya adalah pelatih koor itu. Setelah bla bla bla, alhasil Nisa akan batal ikut. Karena lombanya menuntut keseragaman dengkul *eh.

Ya, nggak apa-apa! Bukan masalah besar. Ya kan, Teh Nisa? We've been through these things. And you know what to do, itu yang penting. InsyaAllah, karena kamu memperjuangkan agama Allah, akan ada ganti yang luar biasa dari-Nya. Aamiin.

Alhamdulillah, betapa sekolah di tengah keberagaman membuatmu belajar memahami perbedaan. Menghargai keanekaan, tanpa harus menjerumuskan diri ke dalamnya.

Jadi, tangguhlah selalu! Inilah dunia, di mana bukan dirimu seorang saja penghuninya. Ada kalanya kamu harus merunduk dan menjunjung langit suatu tempat. Namun bukan berarti kamu harus kehilangan siapa dirimu sebenarnya.

Komentar

  1. Semoga tetap istaqamah dalam berhijab ya Mbak sih Nisa ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin aamiin. Terima kasih doa dan kunjungannya, yaa :)

      Hapus
  2. Semangat ya Nisa! Keren anaknya, sekeren emaknya. Sabar ya nak, dunia memang kejam. *eits, lebay nih komentatornya wkwkkwkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Widiiw kalo Nisa denger eh baca bisa ge-er dia, hehehe. Semoga kita sekeluarga bisa tangguh menghadapi kejamnya dunia, ya Mbak Novia :D
      Trims sudah mampiir ^^

      Hapus
  3. Di Semarang juga terjadi hal serupa. Waktu itu saya gemes juga melihat putri teman saya yang menurut. Ibunya jg bilang gitu sih sama anaknya, sayanya aja yang keukeuh kalo itu bukan menutup aurat namanya. Trus sadar sendiri, napa saya yang ngotot kalo ibunya aja membiarkan. Tapi kok saya jadi sedih ya :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyo, Mbakyu. Nisa jg suka cerita temannya kebanyakan mau aja disuruh gitu. Nisa yg jadi makhluk aneh krn selalu ngotot nggak mau. Gemes dan sedih :(

      Hapus
  4. Mba Lia...merinding baca postingannya. Nyaris terjadi pada anak laki2 saya yg baru pindah sekolah. Anak saya kls 6 SD dari balikpapan, di sana anak2 sekolah biasa memakai celana panjang. Masuk sekolah negeri di jakarta, seragamnya celana pendek selutut. Anak saya sempat goyah ingin ganti pakai yg pendek karena ditegur seorang guru , saya datangi kepsek dan wali kelasnya, minta ijin dan pengertian dari mrk. Alhamdulillah,anak saya diijinkan menggunakan celana panjang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah sekolahnya maklum ya Mbak Ira. Sebetulnya, untuk seragam harian, anak SMP di kota saya sudah wajib pakai bawahan panjang. Hanya kadang pas ada momen lomba yg guru/panitianya suka mikir baju ala muslimah itu nggak rapi, bagusan yg pendek. Itu buktinya, pasukan paskibra nasional aja gitu kan seragamnya? Tapi ya sudahlah, kita lakukan yg kita yakini aja ya Mbak. Terima kasih sudah mampir ^^

      Hapus
  5. Masyaa Allah ... salut sama dd Nisa dan bundanya.... dua-duanya senada dalam melangitkan agama Allah...
    Keep istiqomah yaa dd nisa.. salam kenal dari Mbak Muthmainnah... hehe

    BalasHapus
  6. Ya Allah Mbak Muthmainnah, terharu banget baca komennya. Kami masih jauuuuh sekali dari ilmu, apalagi sempurna. Hanya berusaha mempertahankan apa yg diyakini. Aamiin, semoga Allah selalu membimbing kita semua. Terima kasih kunjungannya, Mbak :)

    BalasHapus
  7. jempol dua buat teh nisa n umminya. iya, resah lihat yg biasa gundulan. maksudnya on off lah. di sekolah/kantor iya, di lingkungan rumah nggak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga yg masih on off segera on terus ya Mbak, dan yg sudah on senantiasa istiqomah. Terima kasih sudah mampir :)

      Hapus
  8. Moga istiqomah teh Nisa, masih banyak jalan mengembangkan potensi teteh Nisa yg tetap sesuai syariat. Inspiring story mba..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Iya Mbak Sarrah, apapun boleh asal nggak bertentangan ya. Terima kasih kunjungannya ^^

      Hapus
    2. Aamiin. Iya Mbak Sarrah, apapun boleh asal nggak bertentangan ya. Terima kasih kunjungannya ^^

      Hapus
  9. sama kaya waktu aku sekolah dulu ,, sekitar awal tahun 2000an waktu foto ijazah yang pakai jilbab jilbabnya suruh lepas, karena foto jilbab harus memperlihatkan daun tlinga,,
    kebayang dong gimana ribet nya jilbabnya tetap dipakai tapi dicopot peniti tengahnya,,trus di skungkutin ampe telinga keliahatan ,,otomatis leher juga kelihatan..

    akhirnya di demo kepseknya,, pada ngancem mogok belajar ,,,
    alhamdulillah akhirnya bisa foto ijazah pakai jilbab

    keep istiqomah ya nissa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillaah perjuangannya nggak sia2 ya Mbak. Aamiin. Terima kasih sudah mampir ya Mbak Putri :)

      Hapus
  10. Hebaaatt si teteh masih umur segitu udah bisa mempertahankan prinsipnya. Padahal biasanya umur2 ABG dan remaja masih labil *inget diri sendiri waktu masi ABG*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Baru nyadar saya, iya ya? Hihi. Alhamdulillah, semoga Nisa istiqomah ya Mbak.. Terima kasih sudah berkunjung :)

      Hapus
  11. Masya Alla, semangat selalu ya Teh Nisaaa.. :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. InsyaAllah, doanya ya Mbak Alvina. Terima kasih sudah mampir ^^

      Hapus
  12. mantap teteh Nisa. saya dukung tiap muslim yang teguh memegang prinsip Islam dimana saja ia berada.. smoga tetap istiqomah :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemeriksaan Jantung Koroner Menggunakan BPJS

Oktober 2016 lalu, saya menjalani beberapa prosedur pemeriksaan penyakit jantung. Mulai dari masuk UGD, sampai proses kateterisasi jantung (angiografi koroner). Pengalaman saya bisa dibaca di sini dan di sini. Saya terdaftar sebagai peserta BPJS Non PBI, ikut suami saya yang PNS. Kelas rawat kelas I. Sebagian besar prosedur tersebut di-cover oleh BPJS.
Memancing Rujukan
Mengapa hanya sebagian? Karena pada awal sakit, permintaan rujukan saya sempat ditolak dokter keluarga. Alasannya, dokkel melihat kondisi umum saya baik, tak masuk kriteria sakit serius atau gawat. Padahal saat itu, saya merasa sesak di dada dan kesemutan di semua bagian kepala. Sambil minta maaf, dokkel menyarankan saya untuk periksa mandiri dulu. Jika nanti hasilnya menjurus ke sesuatu, baru dia bisa memberikan rujukan ke RS. 
Akhirnya, saya periksa mandiri ke dokter spesialis penyakit dalam di RSUD. Dokter tersebut, alhamdulillah, merespon serius keluhan saya. Saya diminta cek darah (gula darah sewaktu, asam urat, da…