Langsung ke konten utama

Bismillaah, Ternyata Bukan Jantung Koroner

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum, selamat pagi. Sehat semua, kan? Alhamdulillaah, saya juga sehat. Lihat post terakhir, ooouh ... sekian abad lalu rupanya, ya? Hahaha. Jadi malu. Maka, hari ini, di sela liburan dan pemikiran naskah-naskah orderan editor -ehmm, saya memutuskan untuk menulis satu post penting. Penting banget.

Yap. Sejak saya cerita soal prosedur kateterisasi jantung, cukup banyak yang wapri saya untuk tanya-tanya. Senang karena bisa menjadi salah satu sumber referensi. Semoga tulisan dan jawaban wapri saya bisa sedikit mencerahkan, ya.

Namun belakangan ini, saya kepikiran untuk menceritakan kondisi terakhir kesehatan saya. Siapa tahu, bisa jadi rujukan dan bahan pertimbangan lagi. Sebab, saat ini, dengan menyebut nama Allah, insya Allah saya tidak mengidap penyakit jantung koroner (PJK), seperti yang 'dituduhkan' di awal.

Ciyuus? Insya Allah. Gini nih ceritanya.


Ganti Dokter, Ganti Cerita

Sekitar 3-4 bulan setelah kateterisasi jantung, saya rutin mengkonsumsi obat untuk PJK. Kalau nggak salah, obat untuk 'mengencerkan' darah (aspilet), menurunkan/menstabilkan tekanan darah (tapi obat ini nggak lama, kayaknya bulan pertama aja), obat lambung (omeprazole atau sejenisnya, karena obat pengencer darah itu ngefek di lambung), serta obat darurat jika terjadi serangan (obat ini diletakkan di bawah lidah, lalu dihisap -- tapi efeknya bikin migren ampun-ampunan).

Namun kemudian, saya memutuskan untuk ganti dokter. Alasan pertama, dokter semula terlalu buanyaak pasien sampe nggak bisa konsul. Saya juga terpaksa pindah RS, karena menurut aturan terbaru BPJS, nggak boleh tuh loncat rujukan langsung ke RSUP (RS tipe A), kecuali mau tindakan.

Alasan kedua, saya pernah sekali konsul ke dokter jantung alm. Papah di RSUP yang sama, dengan membawa semua hasil pemeriksaan sebelumnya. Dan apa beliau bilang, coba?

Ibu, hasil seperti ini tidak bisa disebut sebagai PJK. Ini sangat tidak signifikan, gitu deh kira-kira. Saya disuruh stop semua obat. Dan disuruh olahraga ringan, nggak banyak pikiran, serta banyak sholat dhuha! Wow.


Dokter Jantung yang Menenangkan

Singkat cerita, akhirnya saya konsul ke dokter di RS Roemani. Dr. Sungkar ini ramah dan mau menjawab semua pertanyaan saya dengan sabar. Beliau sempat curiga dengan paru-paru saya, namun setelah melakukan tes spirometri dan melihat x-ray paru-paru, dinyatakan oke. Hanya memang bentuk paru-paru saya terlihat agak memanjang ke bawah. Sementara paru yang normal kan mengembang ke samping. 

Dua kali pertemuan, Pak Dokter meyakinkan saya bahwa saya TIDAK menderita PJK. Tapi Dok, saya masih suka merasa serangan sesek, kesemutan di seluruh badan. Jawabnya tetap, bismillaah, insyaAllah, bukan, katanya. Saya disuruh rajin berenang aja. 

Huaa ... sepulang dari RS, saya terus merapal doa, berusaha menyakinkan diri bahwa saya baik-baik aja. Btw, berarti saya boleh dong, makan makanan enak-enak yang selama ini sayan hindari, wkwkw.


Perjuangan Menegakkan Diagnosa

Iya, ternyata perjalanan saya belum berakhir. Saya sempat ketemu spesialis paru di kota saya, karena sebelumnya pernah tes spirometri dengan beliau juga, Lagi-lagi, problemnya memang di anatomi paru-paru yang memanjang itu. Tapi, mau digimanain lagi? 

Nah, setelah itu, saya masih seriiiing mengalami sesak tiba-tiba, pusing, lungkrah lemes mendadak, jantung tiba-tiba berdebar kayak berasa mau loncat keluar rongga dada. Apa ini? Aduuuh. Saya berusaha berpikir positif dan percaya, saya bukan jantungan.

Lalu, kembali saya browsing ... dan ketemu lagi dengan artikel-artikel GERD, alias penyakit 'asam lambung' kalo bahasa awamnya! Saya pelajari, saya baca pengalaman mereka yang terkena GERD, bahkan ikut jadi silent reader di grup mereka di FB. Qadarullaah, teman kuliah saya juga pasien GERD. Lewat dia, saya makin tercerahkan. Bahwa semua gejala yang saya rasakan, adalah sensasi-sensasi yang biasa dirasakan oleh pasien GERD.

Tapi, bukan saya namanya kalau nggak penasaran. Saya pengeeen banget punya satu diagnosa yang kuat, bahwa memang saya kena GERD. Konon, salah satu tindakan standar untuk itu adalah dengan melakukan endoskopi lambung. 

Alhamdulillah, dokter spesialis penyakit dalam saya baik, hihi. Ketika saya menanyakan kemungkinan endoskopi, beliau menyetujui. Maka, jadilah saya endoskopi. Hasilnya: gastritis erosiva dan GERD. 

And I said, ALHAMDULILLAAH!

Berarti bener, semua rasa jantungan selama ini adalah karena asam lambung berlebih. Aneh banget, ya? Kayak nggak nyambung, tapi itulah kenyataannya. Alhamdulillaah, saya seneng banget! Berarti saya bukan pengidap PJK. Allaahu akbar.

Alhamdulillaah, sekarang GERD saya sudah cukup terkendali. Soal GERD, endoskopi, dan lainnya tentang asam lambung, akan saya ceritakan detail kemudian, insyaAllah.

JADI ...

teman-teman, jika kalian atau orang di sekitar kalian mengalami gejala sesak di dada, ampeg, sakit dada, pusing mendadak, kliyengan, migren, jantung berdebar keras, kesemutan wajah sampai sekujur badan, rasa mau pingsan, nggak berani keluar rumah, takut ngapa-ngapain, takut mati, cemas berlebihan, kalian bisa pertimbangkan GERD ini.

Sebab, GERD memang dikenal sebagai penyakit sejuta sensasi. Mirip banget dengan gejala PJK. Namun, tetap tanyakan dan konsultasikan pada dokter kalian selalu, ya. Kalau dokternya nggak bisa diajak konsultasi dengan nyaman, ganti dokter aja. Hehehe.



Salam sehat!

Komentar

  1. Semula suamiku juga dikira kambuh GERD nya. Tapi hasil ekg sama eco menyatakan ada sumbatan. Entah lah, semoga langkah ikhtiar kami berikutnya ada titik terang yg positif

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemeriksaan Jantung Koroner Menggunakan BPJS

Oktober 2016 lalu, saya menjalani beberapa prosedur pemeriksaan penyakit jantung. Mulai dari masuk UGD, sampai proses kateterisasi jantung (angiografi koroner). Pengalaman saya bisa dibaca di sini dan di sini. Saya terdaftar sebagai peserta BPJS Non PBI, ikut suami saya yang PNS. Kelas rawat kelas I. Sebagian besar prosedur tersebut di-cover oleh BPJS.
Memancing Rujukan
Mengapa hanya sebagian? Karena pada awal sakit, permintaan rujukan saya sempat ditolak dokter keluarga. Alasannya, dokkel melihat kondisi umum saya baik, tak masuk kriteria sakit serius atau gawat. Padahal saat itu, saya merasa sesak di dada dan kesemutan di semua bagian kepala. Sambil minta maaf, dokkel menyarankan saya untuk periksa mandiri dulu. Jika nanti hasilnya menjurus ke sesuatu, baru dia bisa memberikan rujukan ke RS. 
Akhirnya, saya periksa mandiri ke dokter spesialis penyakit dalam di RSUD. Dokter tersebut, alhamdulillah, merespon serius keluhan saya. Saya diminta cek darah (gula darah sewaktu, asam urat, da…