Langsung ke konten utama

Do You Love Him?


Pertanyaan itu sering mengusik saya, bahkan sejak saya kecil. Jujur, hubungan kedua orang tua saya bukanlah yang penuh taburan bunga keharmonisan. Namanya juga rumah tangga, ada saja riak –kecil juga besar- yang saya tangkap selama ini. Hingga saya sering membatin, kok betah, sih? Cinta, nggak, sih?
 
Beberapa tahun sebelum Papah berpulang, beliau sakit lama. Berulang kali masuk rumah sakit. Mulai dari pemasangan ring, sampai tidur di ruang tunggu ICU saat Papah baru selesai operasi by pass jantung. Berharap Papah kembali bugar. 

Namun, harapan itu pupus. Papah tak kunjung membaik. Dan satu-satunya yang tetap tegar dan terus bersemangat adalah Mamah. Tetap setia merawat, di rumah maupun di rumah sakit. Tanpa keluhan, tanpa menyesali kenapa begini kenapa begitu.

Mamah selalu ada di sisi Papah. Mulai dari sekedar mengupaskan buah, membuatkan makanan kesukaan Papah, sampai menyeka tubuhnya. Dari membantu ke toilet, sampai memantau tabung oksigen. Selalu siap sedia, sigap untuk terjaga kapan pun Papah membutuhkan.


Saya anggap itu: pengabdian.
Sampai ketika saat itu tiba. Setelah sebulan lebih dirawat di rumah sakit, tiba-tiba Papah drop dan terus kehilangan kesadaran. Dalam doanya, Mamah sempat berbisik, andai Papah harus mengakhiri kesakitannya, Mamah ikhlas. Sebelumnya, beliau berdua memang sudah saling memaafkan dan mengikhlaskan. 

Mamah terus merapal doa, menuntun Papah sebisanya, sampai para dokter meminta beliau menepi. Dan Papah pun kembali. Pulang ke keabadian. Tanpa derai tangis, tanpa ratapan. Hanya tatapan tabah. Ikhlas? Yang jelas, Mamah merasa belum puas merawat Papah.

Karena suatu hal, Mamah sendirian yang mensucikan Papah. Dan terus menemaninya dalam ambulan jenazah, dalam perjalanan membelah malam antara Ambarawa-Tasikamalaya.

“Ini tugas terakhir Mamah,” tegas beliau.

Sampai kini, Mamah terus ‘menjaga’ Papah. Mengkhatamkan tilawahnya untuk Papah. Mengirimkan doa setiap saat. Menjenguk makamnya meski harus menempuh perjalanan ratusan kilometer. Merawat peninggalan Papah, dan menjaga silaturahim.

Apakah Mamah mencintai Papah? Ah, rasanya tak perlu lagi saya mempertanyakan itu.


Komentar

  1. Balasan
    1. Semoga,Mbak. InsyaAllah. Terima kasih banyak sudah mampir, Mbak Sarah :)

      Hapus
  2. masyaAllah mengahrukan ya mba...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Nda. Sampai sekarang, sudah sekitar 4 tahun, saya masih terpesona pada momen itu. Mohon doanya ya agar beliau berdua bisa bersua di surga-Nya kelak.

      Hapus
  3. Cinta yang tidak terungkapkan dengan kata-kata ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup, Mbak Arum. Luarnya ribut, dalamnya menghanyutkan :)

      Hapus
  4. Balasan
    1. Pidu'ana Teteh :*
      Nuhun sdh baca, ya.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemeriksaan Jantung Koroner Menggunakan BPJS

Oktober 2016 lalu, saya menjalani beberapa prosedur pemeriksaan penyakit jantung. Mulai dari masuk UGD, sampai proses kateterisasi jantung (angiografi koroner). Pengalaman saya bisa dibaca di sini dan di sini. Saya terdaftar sebagai peserta BPJS Non PBI, ikut suami saya yang PNS. Kelas rawat kelas I. Sebagian besar prosedur tersebut di-cover oleh BPJS.
Memancing Rujukan
Mengapa hanya sebagian? Karena pada awal sakit, permintaan rujukan saya sempat ditolak dokter keluarga. Alasannya, dokkel melihat kondisi umum saya baik, tak masuk kriteria sakit serius atau gawat. Padahal saat itu, saya merasa sesak di dada dan kesemutan di semua bagian kepala. Sambil minta maaf, dokkel menyarankan saya untuk periksa mandiri dulu. Jika nanti hasilnya menjurus ke sesuatu, baru dia bisa memberikan rujukan ke RS. 
Akhirnya, saya periksa mandiri ke dokter spesialis penyakit dalam di RSUD. Dokter tersebut, alhamdulillah, merespon serius keluhan saya. Saya diminta cek darah (gula darah sewaktu, asam urat, da…