Langsung ke konten utama

My Fisrt Book For Teens: Puber Stories ^^

Yeaay, puber! Or, whooops ... pubeerrr, bikin keder?

Ah, masa remaja, abege, puber, memang sejuta rasa dan makna. Inilah saat di mana anak manusia akan mengalami perubahan pesat, fisik dan mental. Saking pesatnya, sampai bikin bingung! Senang karena merasa sudah gede, tapi galau juga karena nggak siap menghadapi kelakuan tubuh dan esmosi yang mendadak aneh.

*jangan-jangan, yang bingung itu sebetulnya emak bapak, yak? Anaknya mah nyantai, hihihi.

Puber, sayang untuk dilewatkan. Makanya, saya memutuskan untuk meng-oke-kan nulis tema ini. Awalnya sih, karena tertantang. Mau nyoba keluar dari zona 'nyaman dan aman'. Secara publik kan tahunya saya ini penulis buku anak yang cukup ... *eaaa, dilempar bakwan :p

Etapi, ternyata ... susah juga! Belibet, bet.

Kok?

Ya iyalah. Some reasons are:
- isinya kumpulan cerpen remaja, jadi pasti melibatkan jauh lebih banyak kata dibanding buku anak :D
- harus mencakup hal-hal populer about puber
- harus ada tipnya
- kudu memikirkan aspek psikologis remaja, agar mereka nggak jutek karena merasa dinasehati
- most of all: musti GOKIL!

Ayayayaiii ... Meski nulis gaya gokil itu tujuan hidup saya yang lama terkubur *hasyah*, selama ini kan saya nulisnya buku anak. Jadiii, saya harus semedi nyari pangsit dulu berbulan-bulan buat ngegokilin otak saya. *sungkem pada mas editor yang rela sabar nungguin.

Riset di internet -teteeup, pun mewawancara narasumber yakni anak sulung saya sendiri. Hehe. Tes baca, rombak. Tes lagi, edit. Maklum, profesi utama saya sebagai seorang emak, jadi teteeup penginnya mah menyusupkan helaian nasehat secara diam-diam. Agar kelak remaja yang baca nggak sadar, bahwa di balik cerita puber paling ngakak yang lagi dia cerna, ada misi rahasia nan mulia. Bahwa seorang emak ingin para remaja survive dari masa pubernya dengan smooth dan bijak. Selamet sejahtera.

Dan, huaaa ... It was a long long hard way to go *ora lebay, lho.

Dan taraaa!
Setelah nyaris putus asa dan kepengin nyerah aja, akhirnya saya berhasil juga menyelesaikan naskah ini! Alhamdulillaaah. This was beyond my mind, but I did it! Thanks only to You, Allah my Rabb.

Setelah meng-email naskah lengkap ke editor, saya langsung mengeksekusi janji untuk memberi reward pada diri ini. Maka, dengan suka cita sekaligus deg-degan (karena ini pertama kalinya melakukannya sendirian), saya meluncur ke warung mie ayam! Horeee!

So, enjoy the book!
InsyaAllah bermanfaat, cucok banget buat menemani para abege menapaki masa pubernya.

Mati gaya karena bingung menghadapi remaja? Nggak jaman! Sodorin aja buku ini!

***
Judul Buku: Puber Stories For Girls/Boys
Penerbit: Tiga Ananda - Tiga Serangkai
Jumlah Hal: 256 hal

Komentar

  1. Aamiin, makasih doanya, Mbak Ade. Makasih juga sudah mampir. Maaf yaa rumahnya kotor, hehe *sodorin keset :)

    BalasHapus
  2. Wah, ternayat sy lg berkunjung ke rumahnya seorang penulis *trus mlipir minder >_<
    Sukses ya Mak buat bukunya. Semoag laris manis tanjung kimpul hehehe

    BalasHapus
  3. Aamiin, terima kasih doanya, ya Mak Vhoy. Salam kenal juga ^^
    Lho, ngapain mindeer? Saya aja yg blognya acakadut bin jadul, nggak minder tuh sama para blogger kece, ehehehe.

    BalasHapus
  4. Udah siap di tokbuk kan ya, akhirnya punya koleksi bukumu, moga laris atas :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, matur nuwun doanya Mbakyu. InsyaAllah soon, minggu lalu baru naik cetak, Mbak. Moga2 nggak ngecewain yaa ^^

      Hapus
  5. Balasan
    1. Aamiin .. Terima kasih doa dan kunjungannya yaa ^^

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemeriksaan Jantung Koroner Menggunakan BPJS

Oktober 2016 lalu, saya menjalani beberapa prosedur pemeriksaan penyakit jantung. Mulai dari masuk UGD, sampai proses kateterisasi jantung (angiografi koroner). Pengalaman saya bisa dibaca di sini dan di sini. Saya terdaftar sebagai peserta BPJS Non PBI, ikut suami saya yang PNS. Kelas rawat kelas I. Sebagian besar prosedur tersebut di-cover oleh BPJS.
Memancing Rujukan
Mengapa hanya sebagian? Karena pada awal sakit, permintaan rujukan saya sempat ditolak dokter keluarga. Alasannya, dokkel melihat kondisi umum saya baik, tak masuk kriteria sakit serius atau gawat. Padahal saat itu, saya merasa sesak di dada dan kesemutan di semua bagian kepala. Sambil minta maaf, dokkel menyarankan saya untuk periksa mandiri dulu. Jika nanti hasilnya menjurus ke sesuatu, baru dia bisa memberikan rujukan ke RS. 
Akhirnya, saya periksa mandiri ke dokter spesialis penyakit dalam di RSUD. Dokter tersebut, alhamdulillah, merespon serius keluhan saya. Saya diminta cek darah (gula darah sewaktu, asam urat, da…