Langsung ke konten utama

Me and My Back Bone: Jangan Sepelekan Sakit Punggung


Nyeri Punggung Menahun
 
Sudah sekitar lima tahun saya merasakan ada masalah dengan tulang punggung saya. Awalnya, sih, setiap habis setrika baju dengan gaya melantai, atau duduk agak lama, pasti daerah pinggang terasa panas dan pegal-pegal. Pasti bakal bangkit dengan terbungkuk-bungkuk persis mbah tuwek. Ah, namanya juga habis aktivitas, biasalah pegal, begitu batin saya selalu. 

Selain itu, hampir setiap bangun pagi, punggung bagian tengah sampai pinggang kaku dan nyeri sekali. Sampai-sampai saya nggak berani bergerak, karena bergerak sedetik saja sakitnya minta ampun. Tapi, tentu saya harus bisa bangun, karena saya, kan, harus sholat subuh. Jadi, setelah ugat-uget di kasur–biasanya sekitar setengah jam, saya berhasil memaksa diri ke posisi miring, untuk kemudian pelan-pelan bangun ke posisi duduk. Tarik nafas dulu, dengan rasa dada sesak (mungkin karena nahan sakit). Lalu, seperti biasa saya terbungkuk-bungkuk jalan ke kamar mandi. Saat wudhu di kran, saya tekuk lutut supaya punggung nggak terlalu sakit. Biasanya, setelah dipakai beraktivitas, nyeri itu mereda.

Lama-lama saya ilfil juga. Masa saya harus sakit punggung setiap pagi? Memang, sih, secara kasat mata saya segar bugar tak kurang suatu apapun. Makanya, mau periksa ke dokter juga agak ‘malu’. Apa iya yang saya rasakan ini layak dibawa ke ruang periksa? 

Akhirnya ke Dokter Juga

Yah, akhirnya saya ke dokter keluarga. Low back pain, katanya, dan diberi glucosamin serta analgesik (pereda nyeri). Karena masih sering nyeri pagi hari, saya minta dirujuk ke rumah sakit. Di sana bertemu dokter spesialis syaraf, yang mendiagnosa saya hanya spasme (kejang) otot. Saya dirujuk fisioterapi. 

Memang setelah beberapa kali terapi, saya nyaris nggak pernah merasa pegal di otot pinggang. Namun, tulang punggung bagian bawah masih nyeri.

Akhirnya, saya difoto X-ray. Hasilnya, skoliosis derajad ringan, dengan bentuk kurva C. Artinya, tulang pinggang (lumbal) saya bengkok ke kiri, bentuknya melengkung seperti huruf C. Penyebabnya, bisa karena sikap tubuh yang salah selama bertahun-tahun. Hiks. Sempat agak melow waktu itu. Berasa jadi makhluk ‘rusak’. Astaghfirullaah ...

Terapi dan Terapi, Tapi ...

Saya disuruh melanjutkan terapi dipanasi dengan sinar infrared. Masih nyeri juga, tuh. Jadi, pertengahan Ramadan lalu saya dirujuk ke RSUP dr. Kariadi Semarang untuk MRI. Tapi, oleh dokter residen di bagian syaraf di rumah sakit pemerintah terbesar di Jateng itu, saya hanya diminta foto rontgen ulang. Semoga hanya kejang otot, katanya. Ternyata, hasil rontgen, ada osteofit (awam: pengapuran) di tulang lumbal saya. Diagnosa: spondylosis lumbalis (penyakit degenerasi tulang belakang).

Jadi, saya kembali harus menjalani terapi. Namanya TMS. Bagian yang sakit, disentuh dengan logam berbentuk lingkaran yang bekerja dengan gelombang elektromagnetik. Rasanya? Yah, kayak ditusuk-tusuk jarum. Pokoknya lumayan sakit. Senat-senut dan jedat-jedut.

Setelah satu sesi (5 kali terapi berturut-turut) tetap nggak ada perbaikan, saya dirujuk untuk EMG. Nah, kali ini disetrum betulan, dengan listrik statis yang cukup bikin saya keringetan. Tujuan EMG untuk memeriksa kondisi syaraf pasien. Hasil EMG saya menunjukkan ada radikulopati di syaraf tulang pinggang bawah. Pantesan belakangan kaki kiri saya, mulai dari betis sampai telapak kaki, selalu kesemutan. 

Kata dokter saya, kemungkinan besar saya terkena HNP (herniated nucleous pulposus), alias syaraf terjepit.

So, saya kembali harus fisioterapi. Lah, bosaaan ... Pergi-pergi terus, kerjaan rumah maupun kerjaan sebagai penulis betul-betul keteteran. Selama periksa dan terapi itu, saya tetap berusaha mengerjakan dua naskah buku anak. Alhamdulillah editor saya baik-baik, hehehe.

Jadi ...

Sayangi tulang punggungmu. Tulang punggung yang terdiri dari ruas-ruas tulang leher, dada, pinggang, dan tulang ekor itu, mengemban tugas yang sangat berat, bahkan saat kita tidur lelap. Subhanallah. Jaga tulang punggungmu baik-baik, karena sehat itu investasi dari Allah. Karena sehat itu nikmat. Sungguh! 

Purwodadi, 2 Okt’ 2014

Komentar

  1. Semangat ya mba lia, cepet sehat aamiin :*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, nuhun Teh. Semangat, dong hehe :D

      Hapus
  2. iya jangan sampai dibiarkan walaupun sakit punggung biasa .. takut2 kenapanapa kaan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo Mbak Putri, iya loh ternyata emang kenapa2 tuh, hehe. Alhamdulillah Allah kasih tubuh yg kuat. Makasih sdh berkunjung yaa ^^

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemeriksaan Jantung Koroner Menggunakan BPJS

Oktober 2016 lalu, saya menjalani beberapa prosedur pemeriksaan penyakit jantung. Mulai dari masuk UGD, sampai proses kateterisasi jantung (angiografi koroner). Pengalaman saya bisa dibaca di sini dan di sini. Saya terdaftar sebagai peserta BPJS Non PBI, ikut suami saya yang PNS. Kelas rawat kelas I. Sebagian besar prosedur tersebut di-cover oleh BPJS.
Memancing Rujukan
Mengapa hanya sebagian? Karena pada awal sakit, permintaan rujukan saya sempat ditolak dokter keluarga. Alasannya, dokkel melihat kondisi umum saya baik, tak masuk kriteria sakit serius atau gawat. Padahal saat itu, saya merasa sesak di dada dan kesemutan di semua bagian kepala. Sambil minta maaf, dokkel menyarankan saya untuk periksa mandiri dulu. Jika nanti hasilnya menjurus ke sesuatu, baru dia bisa memberikan rujukan ke RS. 
Akhirnya, saya periksa mandiri ke dokter spesialis penyakit dalam di RSUD. Dokter tersebut, alhamdulillah, merespon serius keluhan saya. Saya diminta cek darah (gula darah sewaktu, asam urat, da…