Langsung ke konten utama

PULSA HABIS, BUNDA PUN MERINGIS




Jangan kira urusan galau gara-gara kehabisan pulsa hanya cerita kaum remaja. Para ibu, alias emak-emak pun, bisa pusing tujuh keliling dibuatnya. Pasalnya, kami kaum ibu, telah terlanjur tergantung pada alat komunikasi macam ponsel untuk berbagai keperluan. Mulai untuk menelepon, kirim SMS, sampai berselancar di dunia maya. Dari sekedar untuk say hi pada teman dan kerabat, sampai sarana mengawasi anak yang sedang beraktivitas di luar sana. Itu semua membutuhkan pulsa, kan? Dan ponsel tanpa pulsa, ibarat senjata tanpa peluru. Tak ada gunanya. Pulsa habis, Bunda pun meringis.

Hari itu, saya harus meninggalkan keluarga saya, untuk menjenguk ayah saya di rumah sakit di luar kota. Duh, itu pengalaman pertama saya pergi tanpa ketiga anak saya. Biasanya, ke manapun kami selalu bersama. Rasa cemas, nervous, juga bimbang melanda hati ini.

“Jadi pergi, enggak, ya?“ tanya saya setengah mengeluh pada suami.

“Sudah, pergi sajalah, jenguk Papah. Anak-anak sama aku. Kalau ada apa-apa, kan bisa telepon,“ suami saya menenangkan.

Okelah kalau begitu. Maka, selagi anak-anak masih terlelap tidur pagi itu, saya bergegas melangkahkan kaki menuju terminal bus. Dan dimulailah perjalanan panjang saya, sendirian.
Bahkan saat masih di termial, saya sudah kangen rumah. Khawatir anak-anak, terutama si bungsu yang baru 3 tahun, mencari saya. Tak tahan, saya langsung ambil ponsel dari tas. Tekan nomor, dan jreng jreeng ... Pulsa saya ternyata tekor. Aduh, duuh … Bagaimana pula ini? Beruntung, suami pas telepon. Langsung deh saya todong buat belikan pulsa di lapak tetangga. 

Di atas bus, saya kepingin ngobrol dengan anak-anak. Paling tidak, saya mau pamit dan minta maaf karena pergi enggak bilang-bilang. Angkat telepon lagi, dan … pulsa belum masuk. Tunggu beberapa saat, saya coba cek saldo pulsa lagi. Masih nol rupiah. Sepanjang perjalanan, nyaris tak henti saya cek pulsa. Ini suami saya yang lupa, atau ada kendala teknis dari si tukang pulsa, sih? Sampai di kota tujuan, pulsa masih nol besar. Hiks, sediiih. 

Syukurlah, beberapa waktu kemudian, suami saya telepon. Ternyata, pulsa yang dibelinya salah kirim ke nomor ponsel anak saya. Oalaah ... Suami langsung minta dikirim ulang, dan triiing ... sejumlah pulsa terisi dengan manisnya di ponsel saya. Senangnyaa. Saya jadi bisa telepon anak-anak dan bilang, “Maaf yaa, Bunda pergi sebelum kalian bangun. Maaf juga tadi enggak bisa nelepon. Bunda enggak punya pulsaaa …

Hehehe. Begitulah kehidupan emak zaman sekarang. Pulsa tiada, emak sengsara.

 ----
<div style="color: #ba7a00;" align="center"><strong>Postingan ini dalam rangka <a href="http://pojokpulsa.co.id/">Lomba Blog Pojok Pulsa</a>: </strong>
<a href="http://pojokpulsa.co.id/">Pojok Pulsa</a> – <a href="http://pojokpulsa.co.id/">Pulsa Elektrik</a> - <a href="http://pojokpulsa.co.id/">Pulsa Murah</a> - <a href="http://pojokpulsa.co.id/">Voucher Game Online</a>.
Mau Pulsa Gratis? Follow: <a href="http://twitter.com/pojoktweet">@pojoktweet</a> | <a href="http://facebook.com/pojokpulsa.co.id">Facebook Page Pojok Pulsa</a> | <a href="https://plus.google.com/118409919371549259975/posts">Pojok Pulsa Google Plus Page</a></div>


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemeriksaan Jantung Koroner Menggunakan BPJS

Oktober 2016 lalu, saya menjalani beberapa prosedur pemeriksaan penyakit jantung. Mulai dari masuk UGD, sampai proses kateterisasi jantung (angiografi koroner). Pengalaman saya bisa dibaca di sini dan di sini. Saya terdaftar sebagai peserta BPJS Non PBI, ikut suami saya yang PNS. Kelas rawat kelas I. Sebagian besar prosedur tersebut di-cover oleh BPJS.
Memancing Rujukan
Mengapa hanya sebagian? Karena pada awal sakit, permintaan rujukan saya sempat ditolak dokter keluarga. Alasannya, dokkel melihat kondisi umum saya baik, tak masuk kriteria sakit serius atau gawat. Padahal saat itu, saya merasa sesak di dada dan kesemutan di semua bagian kepala. Sambil minta maaf, dokkel menyarankan saya untuk periksa mandiri dulu. Jika nanti hasilnya menjurus ke sesuatu, baru dia bisa memberikan rujukan ke RS. 
Akhirnya, saya periksa mandiri ke dokter spesialis penyakit dalam di RSUD. Dokter tersebut, alhamdulillah, merespon serius keluhan saya. Saya diminta cek darah (gula darah sewaktu, asam urat, da…