Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2012

Murid Lugu (dimuat di Gado-gado Femina, Juni 2012)

Mengajar di sebuah sekolah menengah pertama yang berada jauh dari ‘peradaban’, pastilah bukan cita-cita suami saya di awal kariernya sebagai guru. Namun apa hendak dikata, ternyata SK PNS-nya menempatkan sang guru seni musik itu di sebuah SMP nun di atas perbukitan kapur di utara kabupaten kami. Sebuah lokasi yang untuk mencapainya harus mendaki jalan berbatu gunung yang terjal dan menembus kegelapan hutan jati. Yang bila musim hujan, jalan itu berlapis lumpur licin yang sanggup melontarkan para guru dari atas jok motor mereka. Soal penghuni sekolah alias para murid, sayangnya berbanding lurus dengan kondisi geografis dan ekonomis daerah itu. Terbatasnya akses informasi dan modernisasi, membuat mayoritas murid (pun warga) menjalani kehidupan yang sangat sederhana juga lugu. Alih-alih kenakalan yang lazim ditemui di usia remaja, suami saya justru acapkali menemukan polah yang cenderung ‘ajaib’. Misal pada suatu saat suami saya mengadakan ulangan harian. Salah satu soalnya ber…

Tragedi Baju Pengantin [dimuat di Femina, 2011]

Aku benar-benar tidak dapat melupakan acara resepsi pernikahanku, lebih dari sebelas tahun yang lalu. Bukan saja karena itulah salah satu momen teristimawa dalam hidupku, tapi juga karena terjadinya insiden yang sempat membuat kami semua kalang kabut! Waktu itu, akad nikah dilakukan di rumah keluargaku di Banyubiru, sebuah kecamatan di Kabupaten Semarang, yang berjarak sekitar 40 kilometer dari kotamadya Semarang, ibukota Jawa Tengah. Besoknya, barulah kami menggelar syukuran atau resepsinya di sebuah gedung di kotaSemarang. Maklum, kami warga baru di Banyubiru, setelah sebelumnya lama tinggal di Semarang. Jadi, dengan pertimbangan untuk mempermudah teman dan kerabat yang kami undang, diputuskan bahwa lebih baik acara resepsi dilaksanakan di Semarang saja. Hari H, pagi-pagi sekali, kami semua berangkat ke Semarang. Mulai dari kami sang pengantin, handai taulan dan sanak kerabat yang berdatangan dari Jakarta dan Cianjur, sampai para remaja pengapit pengantin dan tim perias,…

Sebelum Pilih Sekolah Buat si Kecil, Baca Buku Ini Dulu

Seru. Haru. Deg-degan. Takut. Senewen.
Apalagi, ya?
Apapun, pasti berjuta rasanya saat hari istimewa ini tiba: hari pertama si kecil masuk sekolah!

Buku antologi terbaruku ini berisi kisah-kisah seru aku dan teman-teman ketika mengawal anak-anak kami memasuki babak baru dalam hidupnya. Juga dilengkapi dengan aneka tips ringan seputar pengalaman menangani berbagai masalah yang bisa jadi muncul pada anak usia sekolah, plus resep-resaep bekal yang yummy-praktis-bergizi.

So, tunggu apa lagi? Grab it now! :)

FOR THE LOVE OF MOM [ One of My Fave ]

Cinta ibu, lebih luas dari langit biru.
Lebih dalam dari samudera.
Lebih indah dari warna pelangi.
Lebih wangi dari seribu kelopak bunga.

FOR THE LOVE OF MOM, terbitan Imania, 2012. Antologi yang memuat tulisanku tentang cintaku pada anak-anakku. Membaca buku ini, kita dihadapkan pada sebuah air terjun cinta, yang gemuruh riuh airnya tak akan berhenti mengalir sepanjang masa.

Siapkan sapu tangan sebelum membaca buku ini, karena dijamin kamu bakal meneteskan airmata dengan aneka rasa.

Selamat membaca ...

PULSA HABIS, BUNDA PUN MERINGIS

Jangan kira urusan galau gara-gara kehabisan pulsa hanya cerita kaum remaja. Para ibu, alias emak-emak pun, bisa pusing tujuh keliling dibuatnya. Pasalnya, kami kaum ibu, telah terlanjur tergantung pada alat komunikasi macam ponsel untuk berbagai keperluan. Mulai untuk menelepon, kirim SMS, sampai berselancar di dunia maya. Dari sekedar untuk sayhi pada teman dan kerabat, sampai sarana mengawasi anak yang sedang beraktivitas di luar sana. Itu semua membutuhkan pulsa, kan? Dan ponsel tanpa pulsa, ibarat senjata tanpa peluru. Tak ada gunanya. Pulsa habis, Bunda pun meringis.
Hari itu, saya harus meninggalkan keluarga saya, untuk menjenguk ayah saya di rumah sakit di luar kota. Duh, itu pengalaman pertama saya pergi tanpa ketiga anak saya. Biasanya, ke manapun kami selalu bersama. Rasa cemas, nervous, juga bimbang melanda hati ini.
“Jadi pergi, enggak, ya?“ tanya saya setengah mengeluh pada suami.
“Sudah, pergi sajalah, jenguk Papah. Anak-anak sama aku. Kalau ada apa-apa, kan bisa telepon,…

MY FIRST TRIP, WAS MY LAST CHANCE

Selasa, 3 April 2012.

Sejatinya, hari itu adalah hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-12. Biasanya, tahun-tahun sebelumnya, aku selalu mencoba membuat hari itu spesial. Paling tidak, berbeda. Entah dengan membuat nasi kuning untuk kami santap bersama, atau hanya sekedar woro-woro antaranggota keluarga kecil kami, bahwa hari itu kami semua 'berulang tahun'.

Pagi itu, aku membuka hari dengan menyapa suamiku tercinta, "Happy anniversary, ya, Yah. Semoga keluarga kita selalu dalam keberkahan...". Tiba-tiba, suamiku bilang, "Kalau Bunda mau ke Semarang sekarang, ya sudahlah, sana berangkat. Aku nggak apa-apa."

What? Aku kaget. Beneran, nih?
Memang, malam sebelumnya, aku berandai-andai, "Yah, mbok besok aku dibolehin nengok Papah, sendirian aja." Hmmm, aku telah meminta suatu hal yang selama ini agak mustahil untuk diwujudkan: pergi ke luar kota sendirian, tanpa suami dan anak-anak. Almost impossible. Nggak pernah aku pergi meninggalkan anak-anak, p…

My Diary: Masih Kugenggam Impian Itu :)

Nggak terasa, sudah dua Ramadhan terlewati sejak pertama kali aku mulai memberanikan diri menulis. Berarti, sudah dua tahun lebih aku merajut dan berusaha tegar menggenggam impianku.

Aku ingin menulis.
Dan aku sudah melakukannya, puluhan kali.
Aku ingin jadi namaku tercantum di dalam buku-buku.
Dan sudah belasan buku keroyokan menyempilkan namaku di dalam daftar kontributornya.
Senang, sudah tentu. Bangga? Kadang. Siapa sih aku ini? Pemula, so pasti. Jadi, melihat namaku termasuk salah satu dari sekian penulis di buku-buku itu saja sudah bersyukur.

But I still want more.
Aku ingin lebih dari itu. Aku ingin sekali punya buku solo, buku karyaku sendiri.Sebetulnya, aku terobsesi kepingin nulis novel anak. Aku membayangkan, pasti anakku bangga luar biasa kalau emaknya ini bisa menerbitkan buku cerita yang dedicated untuk mereka.

Tapi entah kenapa, sejak aku mengikrarkan diri untuk serius, saat itu juga semangat dan kondisi fisikku seakan bahu-membahu berdemo. Ada saja halangan untuk nulis…